Membuka tenant di festival kuliner menjadi salah satu siasat Fakhri untuk mengenalkan resep sang kakek kepada khalayak yang lebih muda. Ia juga berinovasi dengan menghadirkan versi kemasan vakum agar lebih leluasa untuk dibawa.
"Soalnya pelanggan setia Batagor H.Isan kan memang banyak orang-orang tua ya, kita hadir di festival untuk menunjang generasi muda," paparnya.
Jumlah pedagang batagor di Kota Bandung saat ini mungkin sudah tak terhitung. Bahkan, Fakhri mengatakan, jumlah cabang Batagor H. Isan sendiri sudah mencapai lebih dari 20 lokasi.
Namun, tempat asli yang dirintis langsung oleh Haji Isan adalah yang terletak di Jalan Bojongloa Nomor 38, dan di Jalan Cikawao Nomor 27A, Kecamatan Lengkong.
"Rata-rata yang membuka cabang itu masih bekas karyawan juga, dan masih ada ikatan keluarga dengan Haji Isan. Jadi mereka buka (cabang) karena masih keluarga," papar Fakhri.
Ketika disinggung soal hal yang menjadikan batagor Haji Isan legendaris dan terus digemari, ia mengatakan, terletak pada orisinalitas bumbu kacangnya.
"Kami masih pakai bumbu seperti jaman dulu, cara bikinnya digiling. Sekarang kan sudah pakai blender. Kami juga masih mempertahankan kemasan besek. Tetap jaga orisinalitas," jelasnya.
Meski demikian, inovasi jadi hal yang tak bisa dihindari. Kemasan frozen dan vakum, hingga upaya 'turun gunung' kuliner legendaris ke berbagai festival kuliner jadi jalan yang Fakhri tempuh agar warisan sang kakek terus hidup di masyarakat.