"Tentu saja pergi ke sana bukan berarti kita mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi di sana. Jadi, mudah-mudahan banyak orang mulai mengedukasi diri mereka sendiri tentang apa yang terjadi di sana," ujar Hamilton.
Pembalap berusia 41 tahun itu mengakui terus mengadvokasi kembalinya balapan F1 di benua Afrika selama bertahun-tahun. Ia mengaku telah melakukan banyak pertemuan dengan CEO F1 Stefano Domenicali hingga para pemimpin negara di Afrika demi merealisasikan agenda tersebut.
"Saya telah mengadvokasi balapan di Afrika selama bertahun-tahun. Saya melakukan rapat yang tidak terhitung jumlahnya dengan para pemangku kepentingan, termasuk pertemuan dengan Stefano maupun panggilan telepon dengan presiden dari berbagai negara," tuturnya.