"Investor tetap perlu tenang dan jangan panik atau FOMO melihat pergerakan IHSG. Jika ingin masuk pasar, pastikan punya trading plan yang jelas, mulai dari area beli, target profit, hingga batas cut loss," ujarnya.
Senada, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menilai koreksi pasar dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham berfundamental kuat secara bertahap dengan orientasi investasi jangka panjang.
Nafan melihat IHSG masih berada dalam fase downtrend jangka pendek hingga menengah akibat arus keluar modal (capital outflow).
Meski demikian, indeks mulai mendekati area support psikologis yang krusial. Pasalnya, Indikator Relative Strength Index (RSI) dan stochastic berada di area oversold atau membuka peluang terjadinya technical rebound.
Karenanya, Nafan menyarankan investor menggunakan strategi masuk bertahap atau dollar-cost averaging pada saham berfundamental kuat.
Untuk mengidentifikasi peluang masuk yang lebih aman, investor dapat memperhatikan berbagai aspek konfirmasi pembalikan arah, seperti bullish divergence pada RSI atau Moving Average Convergence Divergence (MACD), sinyal golden cross pada Stochastic, serta pola candlestick reversal yang didukung peningkatan volume transaksi.
Penembusan ke atas level resistance terdekat juga dapat menjadi sinyal awal stabilisasi IHSG.
Nafan mencermati saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, serta sektor telekomunikasi dan barang konsumsi yang mengandalkan pasar domestik dan membagikan dividen secara konsisten.
Ia juga menambahkan meredanya tekanan jual asing, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan langkah konkret otoritas pasar modal dalam merespons evaluasi MSCI menjadi faktor yang juga perlu di pantau oleh investor
Selanjutnya, Nafan mengingatkan investor agar tetap rasional, menjaga porsi kas yang memadai, dan menerapkan manajemen risiko.