NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu bergerak melemah mengikuti bursa kawasan Asia di tengah pelaku pasar menantikan dan mencermati hasil pemilihan umum (pemilu) midterm Amerika Serikat (AS).
IHSG dibuka melemah 47,33 poin atau 0,97 persen ke posisi 4.856,96. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,51 poin atau 0,71 persen ke posisi 493,76.
"Secara teknikal, IHSG berpotensi akan uji level 4.650-4.750 apabila support di level 4.900 tidak mampu menahan penurunan lebih lanjut," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari mancanegara, Ratna menyebut pelaku pasar menantikan hasil pemilu midterm AS, yang hasilnya berpotensi mempengaruhi berbagai sektor, mulai dari teknologi hingga utilitas.
Ia memperkirakan masalah inflasi AS akan menjadi isu sentral dalam pemilu, yang mana harga energi meningkat sejak dimulainya perang antara AS dengan Iran, yang memicu kenaikan biaya untuk komoditas seperti bensin dan solar.
"Kuatnya belanja konsumen serta investasi di bidang AI telah membantu menopang pertumbuhan ekonomi AS secara lebih luas. Namun sebagian pemilih juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja," ujar Ratna.
Dari geopolitik, ketegangan antara AS dengan Iran masih menjadi perhatian pasar meskipun upaya diplomatik melalui Qatar terus berlangsung.
Qatar mengirimkan mediator ke Teheran untuk membahas rancangan kesepakatan dengan Washington, namun Iran menilai respons AS terhadap tuntutannya belum meyakinkan.
Kemudian, ketegangan meningkat setelah AS dilaporkan melancarkan serangan defensif terhadap sistem rudal permukaan ke udara Iran yang digunakan untuk menyerang aset AS.
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam kemungkinan aksi militer. Namun, Trump juga menyatakan akan mengakhiri program bantuan senilai 4 miliar dolar AS kepada Israel pada akhir tahun.
Di sisi lain, Ratna menyebut terdapat harapan dari pelaku pasar bahwa AS dan Iran akan mencapai penyelesaian diplomatik, meskipun sebelumnya dilaporkan AS telah menyerang Pulau Qeshm di Iran pada Selasa (3/11/2026).
Seiring harapan tersebut, harga minyak mentah global melemah dengan jenis WTI bergerak di kisaran 96 dolar AS per barel, sementara jenis Brent di level 103 dolar AS per barel pada Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, US 10-year Bond yield naik lebih dari 6 basis poin ke level 4,96 persen, sementara harga emas spot melemah 0,5 persen di level 3,92 dolar AS per troy onz pada Selasa (3/11/2026).
"Penguatan dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS memberikan tekanan pada emas, sementara para investor menantikan hasil pemilu midterm AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan fiskal," ujar Ratna.
Dari dalam negeri, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,4 hingga 5.5 persen sepanjang 2026, atau lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya di level 5,6 hingga 6.0 persen.
Menurut Ratna, penurunan proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap prospek ekonomi domestik.
"Revisi ini berpotensi membatasi optimisme investor terhadap prospek laba emiten, terutama sektor yang sensitif terhadap daya beli dan aktivitas ekonomi, seperti konsumer, ritel, dan properti," ujar Ratna.
Sementara itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah tidak akan memberlakukan skema pungutan pajak baru pada 9 November 2026, termasuk isu terkait pungutan pajak digital oleh perbankan, fintek, hingga e-commerce.
"Klarifikasi itu diharapkan meredakan kekhawatiran pelaku usaha dan masyarakat terhadap potensi kenaikan biaya transaksi digital," ujar Ratna.
Di sisi lain, pemerintah tengah merancang perubahan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA untuk mendorong eksportir mengonversi lebih banyak devisa dalam dolar AS ke rupiah.
"Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas dan meningkatkan ketahanan pasar keuangan domestik, namun perlu dicermati dampaknya terhadap fleksibilitas likuiditas eksportir," ujar Ratna.
Bursa Eropa kompak melemah pada Selasa (03/11/2026), di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,61 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,14 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,45 persen, dan indeks CAC 40 Prancis melemah 0,34 persen.
Sementara bursa Wall Street AS bergerak variatif pada Selasa (3/11/2026), di antaranya indeks S&P 500 menguat 0,37 persen, indeks Nasdaq Composite menguat 0,83 persen, dan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,38 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 3,70 persen ke 60.746,86, indeks Shanghai melemah 0,26 persen ke 3.598,74, indeks Hang Seng melemah 0,42 persen ke 23.428,95, indeks Kospi melemah 3,25 persen ke 5.465,17, dan indeks Straits Times melemah 1,12 persen ke 5.210,99.