Fujitsu menilai keberhasilan sebuah film tidak selalu menjadi penyebab utama peningkatan pendapatan pekerja. Sebaliknya, studio yang sejak awal mampu menarik tenaga profesional berpotensi menghasilkan karya yang lebih kuat secara komersial.
Dia juga menyoroti tantangan pendanaan film animasi orisinal yang tidak didasarkan pada waralaba atau kekayaan intelektual (IP) populer. Di tengah investasi layanan streaming dan kesuksesan film animasi berbasis waralaba, karya orisinal berisiko semakin sulit memperoleh pendanaan dan distribusi.
Minimnya dukungan dana publik untuk produksi film animasi di Jepang turut menyulitkan pembiayaan proyek orisinal. Namun, meningkatnya partisipasi sineas Jepang dalam festival internasional, pasar luar negeri, dan produksi bersama lintas negara membuka peluang pendanaan alternatif.
Dalam program animasi Festival Film Internasional Tokyo tahun ini, sembilan karya dari Jepang dan negara lain ditampilkan. Program tersebut mencakup film produksi studio besar maupun independen, dengan pendekatan komersial dan eksperimental.