NADIKABAR.COM — Industri gim Indonesia diproyeksikan dapat menyumbang hingga 3,3 miliar dolar AS (setara Rp59 triliun) dan mendukung 476.600 lapangan kerja pada tahun 2030 melalui skenario pertumbuhan yang dipercepat.

Proyeksi tersebut berasal dari laporan "The video game industry: Unlocking the next level of economic and social development in Southeast Asia" yang dirilis perusahaan teknologi Tencent dan firma konsultan kebijakan publik Access Partnership. Direktur Urusan Publik Global Tencent untuk Asia Pasifik Monrawee Ampolpittayanant menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berpeluang mengubah kekuatan pasar gim lokal menjadi ekosistem kreatif dan produksi yang lebih kuat.

"Di dalamnya (industri gim Indonesia) studio lokal dapat mengembangkan IP asli, membangun bisnis yang berkelanjutan, dan terhubung dengan audiens di seluruh dunia," ujar Monrawee di Jakarta, Kamis.

Khusus membahas Indonesia, selain proyeksi pendapatan yang berkontribusi pada ekonomi, laporan itu menunjukkan bahwa pada 2030 industri gim lokal berpotensi membuka 476.600 lapangan pekerjaan.

Pada 2025, dalam laporan white paper tersebut terungkap bahwa industri gim Indonesia menciptakan pendapatan total sebesar 1,3 miliar dolar AS (sekitar Rp23 triliun) dengan penyerapan tenaga kerja di sebanyak 257.400 pekerja. Pendapatan tersebut berkontribusi sebanyak 0,12 persen terhadap Pendapatan Bruto Domestik (PDB) Indonesia.

Studi itu menyoroti bahwa sebagian besar pendapatan industri gim di Indonesia masih didominasi oleh sektor perangkat keras dan periferal sebesar 47 persen, disusul eSports sebesar 24 persen, dan ritel 22 persen. Sementara itu, sektor pengembangan dan perilisan gim baru menyumbang sebesar 7 persen dari total nilai pendapatan.

Agar Indonesia dapat meraih manfaat optimal dari pengembangan industri gim nasional, laporan ini memberikan beberapa rekomendasi di antaranya perluasan akses pembiayaan bagi studio lokal melalui berbagai instrumen, seperti hibah prototipe, pendanaan pendamping, dan pinjaman berbunga ringan, untuk membantu pengembang membawa lebih banyak gim ke pasar.

Lalu, penciptaan peluang untuk mengoptimalkan nilai Kekayaan Intelektual (IP) lokal melalui proses pendaftaran, penilaian, dan pembiayaan IP yang lebih sederhana agar studio dapat membangun bisnis penerbitan yang berkelanjutan.

Rekomendasi terakhir adalah penguatan jalur pengembangan bakat dan ekspansi internasional dengan menghadirkan kurikulum khusus, penempatan kerja di industri, dan inisiatif penjajakan bisnis untuk menjangkau pasar global.

Laporan dari Tencent dan Access Partnership itu mengupas kondisi industri gim di level Asia Tenggara (ASEAN) dengan lima negara sebagai penyumbang terbesarnya yaitu Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura, yang kontribusinya memberi nilai tambah pada PDB gabungan kelima negara senilai 8,2 miliar dolar AS (sekitar Rp148 triliun) pada 2025.

Porsi kontribusi Indonesia di Asia Tenggara (ASEAN) untuk industri gim mencapai 21 persen, posisi yang samadengan Thailand. Sementara untuk pemimpin pasar masih dipimpin oleh Malaysia dengan persentase kontribusi sebesar 31 persen.

Untuk kontribusi Singapura dan Filipina pada industri gim ASEAN tercatat masing-masing berkontribusi sebesar 16 persen dan 12 persen.

Pada 2030 diperkirakan industri gim ASEAN dapat berkontribusi senilai 14,2 miliar dolar AS (sekitar Rp256 triliun) dengan penciptaan lapangan pekerjaan sebanyak 1.160.000 pekerjaan.