Ia juga mengaku dapat banyak pengalaman unik selama pembelajaran. Misalnya, ia mengikuti pembelajaran berbahasa Arab hingga teori ilmu agama Islam.

"Di sini aku bersyukur aja sih teman-temannya baik banget, aku juga dulu mikirnya kayak, aduh nanti aku pasti bakalan dikucilkan, gak ada teman karena beda agama sendiri, tapi ternyata di luar itu, aku merasa mungkin Tuhan ngasih aku di sini untuk berbaur sama agama lain," ungkapnya.

Naya mengatakan, ia banyak dibantu oleh kawan-kawannya dalam mempelajari teori Islam. Ia juga dipermudah oleh dosen saat harus setor hafalan surat pendek seperti Al-Fatihah.

Pelajaran yang Naya petik di kampus terkadang membuatnya refleks mengucapkan kalimat seperti insyaallah, assalamualaikum, bahkan astaghfirullah saat di rumah. Naya mengaku bersyukur karena UIN Jakarta tidak membedakan segi agama dan menerima mahasiswa dari nonmuslim. Perjalanan kuliahnya membuktikan bahwa perbedaan agama bukan penghambat dalam menimba ilmu.