NADIKABAR.COM — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah menghasilkan abu vulkanik yang menyebar hingga wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.

Abu vulkanik yang terutama yang berukuran sangat halus sulit untuk dilihat secara langsung. Dalam jumlah yang banyak, hasil aktivitas vulkanik ini dapat mengganggu lingkungan di sekitarnya.

Dikutip dari Institut Teknologi Bandung, abu vulkanik yang masif dapat memengaruhi kemampuan tanah menyerap air, kualitas sumber daya air, hingga meningkatkan potensi terjadinya aliran debris atau lahar ketika material vulkanik bercampur dengan air hujan.

"Pengaruhnya terhadap lingkungan akan beragam. Dari bidang sumber daya air, yang diselidiki adalah material abu yang ukurannya relatif kecil dan bisa tersebar hingga jauh, tergantung ukurannya," kata Dosen Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB), Ir Joko Nugroho, ST, MT, PhD.

Lebih lanjut, Joko menjelaskan masyarakat perlu waspada apabila hujan dalam intensitas besar melanda wilayah sekitar sungai. Apabila debit sungai naik karena hujan, dikhawatirkan sisa abu vulkanik akan terbawa ke hilir, yang berpotensi digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, apa saja dampak lanjutan dari tersebarnya abu vulkanik dari erupsi gunung Anak Krakatau?

Ukuran abu vulkanik yang sangat halus berpotensi mengisi hingga menyumbat rongga dalam tanah atau di permukaan tanah. Akibatnya, air hujan lebih sulit meresap dan cenderung hanya mengalir di permukaan tanah saat intensitasnya begitu tinggi.

"Abu yang menutupi permukaan bisa membuat air lebih sulit masuk ke tanah, sehingga alirannya di permukaan menjadi lebih besar," jelasnya.

Joko menjelaskan kondisi ini perlu diwaspadai di daerah dengan curah hujan yang tinggi dan wilayah dengan topografi yang curam seperti pegunungan. Dua kombo ini dapat mempercepat laju air ke daerah yang lebih rendah sehingga dapat berujung terjadinya banjir.

Aliran air di permukaan tanah dapat membawa material vulkanik dengan konsentrasi sedimen tinggi, sehingga dapat membentuk aliran debris yang juga dikenal sebagai lahar dingin.

Konsentrasi sedimen yang rendah dapat menyebabkan banjir. Namun, konsentrasi sedimen yang tinggi berhubungan dengan massa dan momentum yang dimiliki oleh aliran air, sehingga dapat memberikan dampak yang lebih berat dibandingkan dengan banjir biasa.

Perbedaan konsentrasi sedimen ini baru bisa dilihat saat aliran air surut. Banjir biasa pada umumnya meninggalkan sedimen yang lebih halus atau berubah menjadi lumpur karena terkena basah. Sedangkan, lahar cenderung meninggalkan material yang lebih kasar dalam jumlah besar.

"Ketika surut, banjir lahar atau aliran debris akan menyisakan material kasar dan sulit untuk dibersihkan seperti semula. Bahkan di beberapa kasus, jika sudah tertimbun aliran debris hingga mendekati atap akan sulit dibersihkan," katanya dikutip dari ITB.

Selain banjir, material erupsi juga dapat memengaruhi kualitas air baik secara fisik maupun kimia. Sang dosen menyebutkan bahwa masuknya material berukuran halus ke badan air dapat meningkatkan kekeruhan.

Hal ini berbahaya apabila air digunakan oleh masyarakat untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Air yang telah terkontaminasi ini dapat digunakan kembali namun harus melalui proses pengolahan tertentu untuk mengurangi partikel kecil yang melayang dan tidak larut di air.

Secara kimia, air yang terkontaminasi material vulkanik tingkat keasamannya berubah sehingga tidak dapat langsung digunakan dan harus diolah kembali untuk menyesuaikan kualitas dengan kebutuhan konsumsi.

Material vulkanik tidak berhenti di lokasi sekitar erupsi melainkan ikut mengalir hingga wilayah hilir. Material yang berukuran kecil ini bisa terbawa melalui aliran sungai dan kemudian mengendap.

Untuk ukuran material vulkanik yang cenderung lebih besar atau kasar, biasanya akan mengendap di sepanjang jalur sungai.

"Kalau material terbawa sampai ke hilir, biasanya material yang lebih halus akan lebih mudah terbawa, sehingga akhirnya bisa terendapkan di lingkungan pesisir. Pengendapan tersebut kemudian dapat memengaruhi morfologi sungai maupun kawasan pesisir, bahkan dalam kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap terbentuknya delta," jelas Joko.