Langkah demi langkah, persyaratan ini semakin diperketat, sehingga lokasi yang memenuhi syarat pun semakin sedikit. Aspek-aspek lain, seperti kedekatan dengan kota-kota besar, baru akan menjadi pertimbangan jauh di kemudian hari. Sebab satu hal yang jelas: tidak akan ada antusiasme terhadap tempat penyimpanan akhir limbah radioaktif di mana pun, baik di kota maupun di pedesaan.
Tugas Dagmar Dehmer adalah membangun kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Ia harus menjelaskan secara kontinu pentingnya menangani 'warisan' PLTN tersebut, terlepas dari pandangan seseorang terhadap energi nuklir.
Menurut Dehmer, hal ini telah berhasil di Finlandia, "Di Finlandia, ada kepercayaan yang tinggi terhadap tindakan pemerintah. Badan Pengawas dan Pemberi Izin di Finlandia, Stuk, termasuk salah satu lembaga paling dihormati di negara tersebut. Jerman dapat belajar dari Finlandia, yaitu dengan tetap gigih, tidak terus-menerus mengubah arah, dan memiliki kesabaran lintas generasi untuk mencapai hasil yang baik."
Pada akhirnya, penyimpanan akhir limbah nuklir ini sangatlah mahal. Saat ini saja, pencarian lokasi pembuangan akhir dan penyimpanan limbah nuklir di lokasi-lokasi yang ada telah menghabiskan biaya sekitar 1,4 miliar euro per tahun (Rp28,4 triliun). Para ahli memperkirakan biaya untuk fasilitas pembuangan akhir tersebut, jika nantinya selesai dibangun, akan mencapai sekitar 14 miliar euro (Rp284 triliun). Semoga 28.000 meter kubik limbah radioaktif tersebut akan tersimpan selamanya di bawah tanah.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman