"Tapi memang yang persembahan itu kemudian hanya simbolis-simbolis semata, yang justru memang memunculkan itu. Ditambah kemudian upload-an yang malam dan seterusnya itu semakin riuh," imbuhnya.

Sukirman menjelaskan acara Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026 pada Kamis (10/9) malam itu, dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, dan khitanan massal.

"Itu, Acara Maulid, kemudian sunat massal, begitu. Kan ada banyak sisi positifnya kan sebenarnya. Ada sunat massal, Maulid Nabi, lalu kemudian ya masih rangkaian Maulid Nabi lah ya. Lalu kemudian sunat massal itu kemudian ya juga diberkahi oleh para kiai, dan kekompakan masyarakatnya yang saya lihat memang luar biasa. Urunan mandiri, tidak merepotkan siapa pun. Itu sebenarnya yang menjadi titik poinnya juga positif," kata Sukirman.

Menurut Sukirman, secara umum kegiatan festival tersebut memiliki banyak sisi positif.

"Yang pertama sebenarnya kerukunan mereka, semangat mereka, lalu kemudian mereka mandiri mengadakan festival itu. Menjadi bagian menurut saya adalah sesuatu yang sangat positif. Masyarakat guyub, mandiri, betul-betul mandiri," ujar Sukirman.

Namun, ia mengakui ada bagian dari pertunjukan yang kemudian menimbulkan kegaduhan dan multitafsir di tengah masyarakat.

Sukirman menyebut Pemerintah Kabupaten Pekalongan akan berkoordinasi dengan panitia untuk melakukan antisipasi dan mitigasi agar kreativitas masyarakat tetap berjalan, tetapi tidak menimbulkan pemahaman yang bertentangan dengan kaidah agama maupun nilai-nilai Pancasila.

Diberitakan sebelumnya, Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menjadi sorotan setelah disebut ada unsur satanik. Pihak panitia pun buka suara.

"Kami dari perwakilan panitia membenarkan adanya karnaval atau KSNC 2026 yang dilaksanakan Kamis malam, 10 September 2026. Terkait kejadian yang berlangsung, secara detail pihak panitia tidak mengetahui," kata Perwakilan Panitia SKNC, Ziyad Azizi saat ditemui di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Senin (14/9).

Namun, dia mengaku tidak mengetahui maksud dari penampilan tersebut. Ziyad menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari acara khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Simbang Kulon.

Video karnaval tersebut beredar di media sosial, salah satunya diunggah akun @infobimantara. Dalam video tersebut terlihat ada sejumlah orang berkostum putih dan berwajah tengkorak, Ada juga yang berkostum hitam dengan tampang seram.

Bahkan mereka juga membawa peti mati kemudian melakukan penyembelihan kambing. Penonton berkerumun menyaksikan pertunjukan tersebut.