Ia mengatakan aplikasi tersebut menghubungkan petugas Imigrasi dengan Hubinter Polri melalui jaringan Interpol yang menjangkau 196 negara. Dengan sistem ini, kata dia, kecocokan data buronan dapat segera diverifikasi dan dikoordinasikan penanganannya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti sejumlah keberhasilan pengungkapan kasus melalui kerja sama lintas negara. Mulai dari penangkapan buronan Interpol terkait TPPO di Bandara Soekarno-Hatta, penggagalan penyelundupan 1,6 ton ketamin hingga pengungkapan laboratorium gelap.
"Tentunya hal ini perlu kita perkuat dengan teknologi yang senantiasa lebih cepat, lebih tepat untuk identifikasi dan kecepatan dalam penanganannya," tuturnya.
Suyudi mengatakan aplikasi I-GHAS juga akan dikembangkan dengan pemanfaatan kecerdasan buatan atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) dan integrasi data biometrik pada 2027.
Atas dasar itu, pria yang sebelumnya dikenal sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu meminta seluruh jajaran memastikan kesiapan personel dan keandalan sistem.