BNPB juga memasukkan kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian dari bencana hidrometeorologi. Sebab, kemunculan dan penyebaran api dipengaruhi sejumlah faktor lingkungan, termasuk suhu, kelembapan, angin, serta kondisi vegetasi yang mengering.

Dengan demikian, ancaman bencana hidrometeorologi di Indonesia tidak hanya meningkat ketika musim hujan tiba. Pada periode kering, risiko karhutla dan kekeringan justru dapat meningkat.

Perbedaan kondisi tersebut membuat Indonesia menghadapi dua jenis ancaman yang perlu diantisipasi secara bersamaan. Ketika curah hujan tinggi, banjir dan longsor dapat terjadi. Sebaliknya, ketika curah hujan rendah dalam waktu panjang, lahan dan vegetasi mengering sehingga lebih mudah terbakar.

Sebelumnya, Berton juga mengatakan dinamika cuaca saat ini berlangsung cepat dan intens akibat tingginya variabilitas iklim. "Kondisi tersebut berpotensi memicu cuaca ekstrem, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi," ujar Berton dalam keterangan BNPB pada 4 November 2026.