NADIKABAR.COM — Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Luar Negeri memperkuat diplomasi internasional untuk menggalang dukungan pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) menjelang Sidang Majelis Luar Biasa ke-43.
"Menjelang Sidang Majelis Luar Biasa ICAO Ke-43 yang akan berlangsung pada 19–20 November 2026 di Montreal, Kanada, Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Luar Negeri memperkuat kolaborasi dan langkah diplomasi," kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Dia menyampaikan hal itu dilakukan untuk menggalang dukungan internasional bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO Kategori III.
Upaya tersebut dilakukan melalui rapat koordinasi yang diselenggarakan di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (6/11).
Menhub mengatakan, sebelumnya Indonesia pernah menduduki kursi Dewan ICAO selama 12 periode berturut-turut, yakni pada 1962–2001. Kini, jumlah anggota Dewan ICAO bertambah dari 36 menjadi 40 negara. Dengan begitu, peluang Indonesia untuk kembali berkontribusi pada tingkat global terbuka.
“Pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO merupakan momentum penting bagi Indonesia untuk kembali berperan dalam pengambilan keputusan strategis pada bidang penerbangan sipil internasional,” ujar Menhub.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Dudy mengatakan, telah dilakukan berbagai upaya diplomasi, baik melalui forum internasional, pertemuan bilateral, serta komunikasi langsung dengan sejumlah negara ICAO. Dalam upaya-upaya tersebut, Indonesia memiliki empat pesan utama yang disampaikan.
Hingga 6 November 2026, Indonesia telah memperoleh dukungan tertulis dari 28 negara dan indikasi dukungan lisan dari 69 negara. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk terus memperkuat upaya diplomasi menjelang pemilihan anggota Dewan ICAO.
Pertama, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus salah satu pangsa pasar penerbangan besar di kawasan Asia Pasifik. Dengan karakteristik tersebut, Indonesia memiliki perspektif dan pengalaman penting dalam pengembangan penerbangan sipil internasional.
Kedua, Indonesia memiliki komitmen dan rekam jejak yang kuat dalam ICAO. Komitmen ini telah diwujudkan melalui berbagai pekerjaan teknis, program peningkatan kapasitas, serta partisipasi aktif dalam berbagai inisiatif penerbangan tingkat regional maupun global.
Ketiga, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan penghubung antarkawasan, antarnegara maju dan berkembang, serta antarberbagai pemangku kepentingan penerbangan yang memiliki kepentingan dan latar belakang berbeda.
Keempat, Indonesia telah dan siap melanjutkan kontribusi dalam mendukung pelaksanaan berbagai prioritas strategis ICAO. Atas hal-hal tersebut, Indonesia pun telah menerima sejumlah dukungan tertulis dan indikasi dukungan secara lisan.
Menhub juga menekankan pentingnya mengoptimalkan pemanfaatan Aide Memoire, yaitu dokumen diplomatik yang memuat informasi dan poin-poin utama pencalonan Indonesia, sebagai bahan komunikasi kepada negara-negara sahabat guna memperkuat dukungan terhadap pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO.
“Perkembangan ini tentunya patut kita apresiasi. Namun waktu menuju pemilihan semakin dekat," tuturnya.
Karena itu, lanjut Menhub mengatakan upaya diplomasi terus ditingkatkan secara bersama, baik intensitas maupun efektivitasnya agar seluruh potensi dukungan benar-benar dapat diwujudkan dan menjadi dukungan yang nyata bagi Indonesia.
Melalui sinergi Kemenhub, Kemenlu dan seluruh Perwakilan RI di luar negeri, Pemerintah Indonesia berharap dapat mengoptimalkan dukungan internasional sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam mewujudkan penerbangan sipil global yang selamat, aman dan berkelanjutan.