"Perangkat-perangkat tersebut masih menggunakan sistem lama yang tidak lagi diprioritaskan atau bahkan tidak memungkinkan untuk diperbarui melalui patch keamanan; banyak alat pengontrol yang diserang di Prancis," kata Pavlova.

"Misalnya, adalah model lama yang tidak lagi menerima pembaruan keamanan, padahal kelemahannya sudah diketahui sejak tahun 2025," tambahnya.

Pavlova menjelaskan tiga alasan utama mengapa kulkas dan freezer supermarket menjadi incaran empuk para peretas, yaitu mudah dijangkau, menarik untuk diserang serta perangkat keras ini sangat rapuh.

Meski demikian, di era kecerdasan buatan, ancaman tersebut kemungkinan akan meningkat karena AI mempermudah pelaksanaan serangan canggih dan bisa mengotomatiskan serangan pada skala serta kecepatan yang tidak dapat ditandingi oleh manusia.

"Deteksi kerentanan yang digerakkan oleh AI membuat pencarian dan eksploitasi titik lemah menjadi lebih mudah dan lebih cepat dari sebelumnya, termasuk pada fungsi-fungsi vital yang sangat di andalkan. Sementara, melakukan patching pada kecepatan yang masih menjadi hambatan besar bagi pihak yang bertahan. Kondisi ini mungkin akan memburuk sebelum akhirnya membaik," jelas Pavlova.

Toko-toko yang terdampak insiden terbaru ini tampak tidak meningkatkan perlindungan terhadap sistem mereka setelah serangan di Prancis terjadi.

Rybczynska menilai hal ini salah satunya karena banyak toko yang belum menyadari bahwa sistem operasional mereka berpotensi menjadi target serangan siber.

Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya meningkatkan perlindungan terhadap berbagai layanan yang selama ini dianggap tidak terlalu penting, namun tetap memiliki risiko keamanan.