NADIKABAR.COM — Awan mendung dan rintik hujan yang mulai menghiasi langit Bali membawa dinamika rasa tersendiri bagi masyarakat di pulau itu.

Di satu sisi, hadirnya kembali hujan menjadi momen yang sangat dinantikan dan disambut dengan penuh rasa syukur.

Hal ini tak lepas dari kondisi kemarau tahun ini yang berlangsung lebih panjang dan lebih menyengat daripada biasanya. Kedatangan musim basah membawa kesejukan serta harapan baru apalagi bagi sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Namun di sisi lain, bayang-bayang trauma tak sepenuhnya sirna. Memori kelam bencana banjir besar pada September tahun lalu masih membekas di benak sebagian warga terutama yang paling terdampak.

Kala itu, guyuran hujan deras ekstrem melumpuhkan sejumlah wilayah, merendam pusat Kota Denpasar, merusak kawasan Badung, Gianyar, hingga menerjang permukiman di Kabupaten Jembrana. Kejadian itu tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Peristiwa yang merenggut korban jiwa dan memaksa warga mengungsi tersebut menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara berkah dan ancaman air hujan.