"Saya termotivasi apalagi saya juga pernah sekolah agama di Pesantren Kaballangan Pinrang," tuturnya sambil tertawa.
Kini, sedikitnya 45 anak yang rutin belajar mengaji ke Bripka Nur Alam. Mereka tersebar di lima dusun yang berada di Desa Botteng. Jadwal mengajar diatur Bripka Nur Alam secara bergiliran dari satu dusun ke dusun lain,
"Rata-rata dalam satu dusun itu murid ngajinya 8 sampai 10 orang, total ada lima dusun. Jadi jadwal mengajarnya bergiliran, satu tempat setiap hari," jelasnya.
Kegiatan belajar mengaji tersebut dilakukan di masjid-masjid setempat. Diakui, kondisi sejumlah masjid yang masih memprihatinkan serta keterbatasan Al-Qur'an menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran.
"Belajarnya di masjid yang kondisinya juga cukup memprihatinkan. Kami juga kekurangan Al Qur'an yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk belajar mengaji," ucapnya.
Untuk menjangkau wilayah binaannya, Bripka Nur Alam harus menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer dari Polsek Mambi. Sebagian besar perjalanan itu harus dilalui dengan kondisi jalan yang rusak dan sulit dilewati, terutama ketika musim hujan.
"Kalau jaraknya itu sekira 15 kilometer dari Polsek. Tapi sekitar 10 kiloan yang masih rusak parah dan sulit dilalui apalagi saat musim penghujan," ucapnya.
Meski begitu, kondisi jalan tersebut tak menyurutkan niat Bripka Nur Alam untuk terus mengajar. Baginya, perjalanan panjang dan medan yang sulit bukan alasan untuk berhenti mendampingi anak-anak di wilayah binaannya untuk belajar mengaji.
"Paling sedikit tiga kali seminggu saya mengajar mengaji. Kalau lagi tidak banyak tugas kedinasan, biasanya bisa lebih, tergantung kondisi," tuturnya.