"Setelah pasca-12 hari bencana, mereka belum tersentuh oleh pelayanan kesehatan karena sulitnya akses menuju ke sini. Kami menjemput bola untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kampung Nu," tutur Yuli saat dihubungi NadiKabar melalui aplikasi pesan.

Dari asesmen awal, keluhan kesehatan merebak luas. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi yang paling terdampak. Yuli mencatat puluhan pasien mengeluhkan ISPA, batuk-pilek, febris (demam tinggi), dispepsia (nyeri lambung), mialgia (pegal linu), dermatitis, hingga Low Back Pain (LBP) akibat tidur beralaskan tanah dingin.

"Kondisi mereka masih dalam keadaan trauma sehingga masih bertahan untuk tinggal di pengungsian," jelas Yuli.

Kesulitan pengungsi kian berlipat karena pasokan air bersih terputus. Warga dan tim relawan harus menuruni tebing terjal sejauh kurang lebih 1 kilometer menuju sumber mata air pegunungan dan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dilema Rujukan Pasien di Pengungsian

Di tengah fasilitas posko yang serba darurat beralaskan terpal merah, Yuli dihadapkan pada situasi genting. Sejumlah korban gempa semestinya dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, namun medan yang hancur membuat opsi evakuasi menjadi pertimbangan berat.