Hanan mempertanyakan keberlanjutan hidup para petani jika hanya mengandalkan hasil dari lahan sempit, terlebih dengan tanggungan keluarga dan lonjakan biaya hidup sehari-hari.
"Punya lahan cuma sedikit. Pertanyaannya, dengan lahan seluas itu apa cukup dengan anak jumlah sekian? Hayo, kan? Berarti apa? Ini harus ada transformasi, skala ekonominya harus dipenuhi," ungkapnya.
Ia membeberkan pola pengeluaran masyarakat desa saat ini sudah bergeser drastis seiring perkembangan zaman. Kebutuhan dasar kini tak lagi sekadar pangan, melainkan juga biaya energi hingga teknologi informasi yang membebani dompet petani.
"Bayangin, pengeluaran sekarang ini, ya. Listrik bayar, pulsa kan, telepon mahal tuh, ini HP ini luar biasa. Belum yang lain-lainnya, anak sekolah. Apa cukup dengan luas lahan setengah hektar untuk dia bisa hidup istilahnya normal gitu, ya?" kata Hanan.
Lebih lanjut, Hanan menyebut miskinnya skala ekonomi tersebut turut berdampak pada krisis regenerasi di sektor pertanian.