Rata-rata konsentrasi N20 secara global mencapai 339,1 ppb pada 2025. Angka ini 126 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat pada tahun 1750.
Jaringan Global Atmosphere Watch milik WMO memantau karbon dioksida, metana, dinitrogen oksida serta gas bertahan lama lainnya yang berpotensi menimbulkan dampak buruk.
WMO menyebut ketika berbagai negara mulai mengambil langkah untuk mengubah sistem energi menuju pengurangan emisi karbon (dekarbonisasi), perhatian khusus perlu diberikan kepada dua jenis gas yang jumlahnya lebih sedikit di atmosfer dan berdampak besar, yaitu hidrogen molekurler (H2) dan sulfur heksafluorida (SF6).
Konsentrasi SF6 terus meningkat selama tiga dekade terakhir seiring dengan meningkatnya penggunaan listrik secara global. Hal ini terjadi karena SF6 terutama digunakan untuk menekan percikan listrik dalam sistem distribusi tenaga listrik.
SF6 memiliki masa bertahan di atmosfer lebih dari 1.000 tahun. Gas ini juga memiliki potensi pemanasan global tertinggi dalam periode 100 tahun, yaitu sekitar 24.300 kali lebih besar dibandingkan CO2.
Sementara itu, konsentrasi hidrogen meningkat sebesar 5,3 persen pada periode 2010 hingga 2004. Hidrogen mulai digunakan sebagai media penyimpanan energi untuk sektor-sektor yang sulit mengurangi emisi karbon seperti industri baja, pelayaran dan penyimpanan energi dalam jangka panjang.
Hidrogen turut dimanfaatkan untuk mendukung sumber energi terbarukan serta sebagai sumber energi untuk transportasi. Namun, kebocoran hidrogen ke atmosfer dari fasilitas produksi, jaringan pipa, tangki penyimpanan dan sel bahan bakar (fuel cell) menjadi perhatian yang semakin besar.
Sebagai catatan, hidrogen memang bukan gas kaca, tetapi gas ini memengaruhi kimia atmosfer sehingga memiliki dampak tidak langsung yang cukup besar terhadap pemanasan global.
SF6 menunjukkan tantangan berupa penumpukan gas rumah kaca dari proses industri yang bertahan lama dan tidak dapat dipulihkan. Sementara itu, H2 menggambarkan dampak tidak langsung terhadap iklim yang mungkin tidak terlalu terlihat, namun berpotensi signifikan dari penggunaan gas sebagai pembawa energi.
Kebocoran H2 dan sifat SF6 yang bertahan sangat lama di atmosfer berpotensi mengancam manfaat iklim yang diharapkan dari transisi energi. Oleh karena itu, pemantauan komposisi atmosfer bumi secara cermat sangat penting untuk mendeteksi, memahami dan mencegah dampak yang tidak diinginkan dari berbagai perubahan tersebut.
Melalui program Global Amtosphere Watch, WMO mengoordinasikan pemantauan kedua gas tersebut secara global dan mendukung penerapan standar kalibrasi yang konsisten serta diakui secara internasional untuk pengukuran SF6 dan H2 di atmosfer.