Mereka kemudian melakukan pembicaraan yang berfokus pada Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dalam pertemuan dengan Sisi, Xi menyerukan penolakan terhadap campur tangan pihak luar di kawasan Timur Tengah.
"Kita harus menjunjung tinggi prinsip bahwa masyarakat Timur Tengah harus tetap menjadi penentu nasib mereka sendiri, menentang campur tangan pihak luar, dan mendukung negara-negara kawasan dalam memperkuat dialog mengenai perdamaian dan keamanan," tegas Xi, sembari mengajak China dan Mesir untuk 'bersama-sama menentang unilateralisme dan tindakan intimidasi'.
Xi menyerukan 'solusi komprehensif dan keamanan bersama' di kawasan tersebut dan menyatakan isu Palestina tetap menjadi inti dari persoalan Timur Tengah. Dia menegaskan persoalan Palestina tidak boleh diabaikan.
Xi lalu menyerukan dukungan terhadap 'peran efektif' Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB di kawasan Timur Tengah dan mendesak kekuatan luar untuk meninggalkan 'standar ganda' terkait Timur Tengah. Di tengah ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran, Xi menyatakan China 'siap bekerja sama' dengan negara-negara Timur Tengah dalam 'menjaga keamanan jalur pelayaran internasional'.
Menurut pernyataan kantor kepresidenan Mesir, kedua pemimpin menyerukan 'solusi diplomatik' dan 'kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang'.
Keduanya juga disebut membahas penguatan kerja sama bilateral dalam pertemuan di Kairo. Xi disebut menyerukan agar China dan Mesir menciptakan terobosan baru dalam kerja sama di bidang energi hijau, kendaraan listrik, kedirgantaraan, ekonomi digital, dan teknologi pertanian modern.