Sang kakek bekerja untuk Tarachand Ghanshyam Das, salah satu perusahaan industri terkemuka milik komunitas Marwari sebelum India merdeka.
Pada 1960-an, keluarga Mittal pindah ke Calcutta (sekarang Kolkata) untuk mencari peluang hidup yang lebih baik. Ayahnya menjalankan pabrik baja di sana.
Ia menempuh pendidikan di Shri Daulatram Nopany Vidyalaya pada 1957-1964 dan tergolong siswa berprestasi.
Namun, ia sempat menghadapi hambatan ketika St. Xavier's College menolak permohonan masuknya karena kemampuan bahasa Inggrisnya dinilai masih terbatas.
Tak patah arang, Mittal meyakinkan kepala sekolah dengan berjanji menguasai bahasa Inggris dalam waktu satu tahun. Janji itu berhasil ditepati.
Ia bahkan menjadi lulusan terbaik di institusinya, dengan predikat first-class honors dalam program sarjana perdagangan (Bachelor of Commerce/B.Com) dari St. Xavier's College, Universitas Calcutta.
Perkenalan Mittal dengan industri baja bermula lewat perusahaan milik ayahnya, Mohanlal Mittal, yakni Nippon Denro Ispat.
Mittal membagi waktunya antara pendidikan dengan bekerja di perusahaan ayahnya pada usia 19 tahun. Siang hari ia berkuliah, lalu malamnya bekerja di pabrik baja.
Bermula dari Pabrik di Sidoarjo. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)
Setelah lulus pada 1970, dia bergabung dengan bisnis keluarga sebagai 'anak magang'. Pengalaman langsung dalam proses produksi baja inilah yang menjadi fondasi bagi kesuksesannya di kemudian hari.
St. Xavier's College juga berperan penting dalam membangun kepercayaan diri Mittal untuk mengambil keputusan besar, terutama ketika memutuskan pindah ke Indonesia pada 1976 dan mendirikan pabrik baja miliknya sendiri.
Ia membangun pabrik PT Ispat Indo di Sidoarjo, Jawa Timur. Pada 2004, perusahaan itu digabung ke jaringan bisnis internasional dan membentuk nama baru Mittal Steel, yang nantinya berubah lagi menjadi AncelorMittal.
Mittal menghabiskan lebih dari satu dekade untuk mempelajari cara mengelola pabrik tersebut secara efisien.