NADIKABAR.COM — Dari seruan memilukan penuh kerinduan burung loon hingga pekikan melengking burung jalak bersayap merah, seluk-beluk kicauan burung telah diteliti mendalam. Para ilmuwan juga telah menyusun hipotesis tentang bagaimana kicauan ini berfungsi di dunia hewan.

Hipotesis Relung Akustik misalnya, menjelaskan bagaimana burung menyesuaikan kicauan dan frekuensi agar suaranya menonjol di antara kebisingan. Kicauan burung juga dapat memiliki aksen dan dialek spesifik pada suatu wilayah, dan kicauan yang sama ternyata mampu meredakan kecemasan serta paranoia manusia.

Namun, hanya sedikit penelitian mendalami cara kerja dari atribut kicauan burung yang bisa dibilang paling menonjol: amplitudo. Nah, penelitian baru di jurnal Evolution menganalisis kicauan burung di Massachusetts bagian barat serta di seluruh Brasil, dengan total 123 spesies.

Dari pengumpulan data, ahli ekologi perilaku University of Massachusetts Amherst, Jeffrey Podos, bersama mantan mahasiswa pascasarjananya, Joao C.T. Menezes, mendokumentasikan burung yang berkicau sangat pelan seperti kolibri petapa berleher gelap, hingga suara lantang burung lonceng berleher polos dan seriema berkaki merah.

"Kami berhasil meningkatkan jumlah spesies yang memiliki data amplitudo secara signifikan. Ini adalah penelitian dasar fundamental yang belum pernah berhasil dilakukan orang lain pada skala seperti ini, dan temuan ini memunculkan berbagai pertanyaan lain yang akan menarik ditindaklanjuti," cetus Podos.

Sebelumnya pada 2019, penelitian yang ditulis bersama oleh Podos di Current Biology berhasil mengidentifikasi pemegang rekor dunia saat ini untuk burung dengan suara paling keras: burung lonceng putih atau White bellbird, yang pekikannya sangat mencolok.

Penelitian itu membandingkan burung lonceng putih dengan burung piha berteriak, yang sesuai namanya, juga bersuara sangat keras. Namun, burung lonceng putih dengan panjang hampir 30 cm unggul dengan selisih sekitar 9 desibel, pada tingkat yang mengejutkan yaitu 125 desibel, setara suara mesin bor jalan raya, dihimpun NadiKabar, Minggu (1/11/2026).

Penelitian baru ini menemukan dua pesaing baru burung bersuara paling keras di dunia pada spesies burung lonceng berleher polos (sesama anggota genus Procnias) dan seriema berkaki merah, seekor burung tak bisa terbang asli Brasil. Masing-masing kicauannya melampaui ambang batas 120 desibel.

Perlahan-lahan, penjelasan mengenai bagaimana beberapa burung dapat berkicau jauh lebih keras dibanding yang lain terkuak, namun mengapa hal itu terjadi masih misterius.

"Sekarang kita tahu beberapa 'bagaimana'-nya. Tubuh lebih besar dan paruh lebih lebar, namun kita belum menemukan 'mengapa'-nya, dan kita mungkin memerlukan lebih banyak data dari lebih banyak spesies untuk mengurai apa yang sebenarnya terjadi di sisi ekologi maupun evolusinya," sebut Menezes.