Arkeolog Griffith University, Basran Burhan, menjelaskan bahwa panas merupakan salah satu ancaman paling merusak bagi lukisan gua.

"Dampak pertama dan paling merusak adalah panas. Bahkan tanpa api menyentuh lukisan secara langsung, panas dapat merusaknya karena mengubah suhu di sekitar lukisan dan mempercepat proses korosi," kata Burhan, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Perubahan suhu di sekitar permukaan batu dapat memengaruhi kondisi fisik material. Jika terjadi berulang kali atau dalam kondisi ekstrem, perubahan tersebut berpotensi mempercepat pelapukan dan kerusakan permukaan batu tempat lukisan berada.

Ancaman lainnya berasal dari asap kebakaran. Asap membawa partikel jelaga yang dapat menempel pada dinding gua dan menutupi gambar prasejarah.

"Jelaga menempel pada lukisan dan menutupinya, sehingga gambar menjadi buram dan sulit dikenali," ujar Burhan.

Lapisan jelaga dapat mengurangi keterlihatan detail gambar. Bagi peneliti, hilangnya detail tersebut bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga dapat menyulitkan dokumentasi dan kajian terhadap bentuk, teknik, serta makna gambar.

Jika api mencapai lukisan secara langsung, kerusakannya berpotensi jauh lebih parah karena permukaan batu dan pigmen yang digunakan untuk membuat gambar dapat ikut terdampak.

Sulawesi memiliki sejumlah situs seni cadas dengan usia yang sangat tua. Temuan-temuan ini menjadi bagian penting dalam penelitian tentang perkembangan seni dan sejarah manusia.