NADIKABAR.COM — Di sebuah pusat pelatihan di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, Anhui, China timur, belasan mahasiswa Indonesia sedang belajar mengoperasikan alat berat konstruksi. Salah satu dari mereka adalah Nurkholish (21), yang bergerak aktif di antara teman-teman sekelasnya, mendemonstrasikan prosedur kepada para peserta baru sekaligus menerjemahkan penjelasan instruktur ke dalam bahasa Indonesia.

Bagi Nurkholish, basis pelatihan konstruksi prefabrikasi itu merupakan tempat yang familier. Dia pernah menghabiskan malam-malam panjang di sini untuk mempersiapkan kompetisi keterampilan vokasi, bekerja sama dengan instrukturnya guna menguji robot inspeksi dinding yang dirancang untuk memindai retakan.

"Banjir dan hujan lebat menjadi hal yang biasa di negara kami, dan itu dapat merusak bangunan tempat kami tinggal, oleh karena itu saya ingin membangun gedung dengan ketahanan yang lebih baik," ujarnya. Hampir setiap hari dia bangun pukul 06.30 dan menghabiskan sebagian besar waktunya di kelas serta mengikuti pelatihan praktik. Awalnya, menyesuaikan diri dengan bahasa pengantar Mandarin cukup menantang, tetapi dia selalu meminta bantuan para guru setiap kali kesulitan memahami materi.

"Para guru di sini sangat sabar, penjelasan mereka lebih terperinci, dan peralatan pelatihannya pun lebih baik daripada yang pernah saya gunakan di tanah air," tuturnya. Setelah lulus nanti, dia berharap dapat memanfaatkan pengetahuannya tentang inspeksi bangunan untuk membantu meningkatkan kualitas konstruksi di kampung halamannya.

Pengalamannya merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mempersiapkan talenta Indonesia bagi operasional perusahaan-perusahaan China di luar negeri.