Terapis sejenis sebenarnya juga sudah dapat dilakukan dengana alat manual seperti Snug Vest, tetapi rompi konvensional ini masih punya keterbatasan karena butuh pengawasan penuh dari terapis atau orang tua untuk mengatur tekanan secara manual.

Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (machine learning) diintegrasikan untuk memecahkan masalah automasi tersebut. Ia mengatakan, untuk mengatasi keterbatasan rompi manual, maka ADAPT-V dirancang agar bisa bekerja secara otomatis dan bekerja secara real-time.

"Kami menanamkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak. Data dari kedua sensor fisik ini kemudian dianalisis secara cerdas oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum," terang Zakky.

Saat fase tantrum terdeteksi oleh sistem, selanjutnya mikrokontroler ESP32 secara otomatis mengaktifkan pompa udara (micro air pump DC) untuk mengisi kantung udara di dalam rompi. Pengaturan tekanan tersebut juga dibuat sangat aman dengan algoritma khusus.

Adapun kunci keamanan rompi terletak pada kendali allgoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP.