Anne menjelaskan bahwa pelestarian sarana bersejarah perlu mempertemukan ketelitian teknis dengan cara penyampaian sejarah yang mudah dipahami masyarakat.

β€œNilai sebuah sarana heritage tidak berhenti pada usianya. Ada pengetahuan tentang cara kerjanya, tantangan yang pernah dihadapi, dan perubahan yang dialami sepanjang perjalanan sejarahnya. Ketika semua itu dirawat dan diceritakan dengan benar, generasi berikutnya dapat belajar dari pengalaman masa lalu,” kata Anne.

Bagi Indonesia, Mak Itam menjadi pengingat bahwa warisan perkeretaapian merupakan bagian dari sejarah teknologi sekaligus sejarah sosial dan ekonomi. Jaringan rel Ombilin dibangun untuk menghubungkan sumber daya dengan pasar, tetapi kini juga menyimpan pelajaran tentang bagaimana infrastruktur membentuk perkembangan suatu wilayah. Tantangan berikutnya adalah memastikan nilai tersebut tetap dipahami masyarakat melalui pelestarian yang bertanggung jawab, dokumentasi yang akurat, dan pemanfaatan yang sesuai dengan kondisi sarana.

β€œDari roda gigi Mak Itam, kita belajar bahwa kemajuan transportasi selalu meninggalkan pengetahuan yang layak dijaga,” tutup Anne.