Sementara itu, sektor transportasi tetap menjadi pendorong utama permintaan minyak bumi karena penggunaan angkutan barang, peningkatan kepemilikan mobil, hingga besarnya populasi kendaraan roda dua dan tiga.

Untuk menyiasati lonjakan harga gas, beberapa negara sempat beralih kembali ke batu bara. Namun, penggunaan batu bara membawa risiko kesehatan dan lingkungan yang besar akibat emisi CO₂ serta polusi udara, yang diperkirakan oleh IEA berkontribusi pada 330 ribu kematian dini di kawasan ini pada 2024.

Oleh karena itu, percepatan energi terbarukan, elektrifikasi, efisiensi energi, serta fleksibilitas sistem kilang dan diversifikasi pasokan menjadi solusi jangka panjang bagi ketahanan energi kawasan.

Head of Energy Modelling and Policy Planning ASEAN Centre for Energy (ACE) Zulfikar Yurnaidi turut membeberkan tantangan besar ASEAN yang membayang di masa depan.

Merujuk pada studi ASEAN Energy Outlook, ACE mengestimasi kebutuhan energi primer di negara-negara ASEAN akan melonjak hingga empat kali lipat atau 400 persen terhitung dari tahun ini hingga 2060.

Guna menekan lonjakan tersebut, ACE menganalisis skenario efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, dan elektrifikasi yang mampu memangkas proyeksi kebutuhan energi hingga setengahnya.

Kendati demikian, langkah tersebut membutuhkan investasi yang fantastis, yakni sekitar US$400 miliar per tahun.

"Jadi bagaimana caranya kita meyakinkan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain, bahwa kepentingan nasional mereka dengan kepentingan regional itu sebenarnya berjalan bersamaan," ujar Zulfikar dalam acara Economic with Rully Kurniawan yang disiarkan di YouTube NadiKabar.com, Kamis (29/10).

Penyelarasan kepentingan regional tersebut mulai diwujudkan melalui langkah konkret untuk memperkuat infrastruktur cadangan energi kawasan, salah satunya adalah dorongan menjadikan Indonesia sebagai pusat penyimpanan (storage) cadangan minyak ASEAN.