Manfaat pembinaan tersebut dirasakan Jajang, mantan napi Lapas Garut yang mendapatkan keterampilan mengolah pakan ternak unggas selama menjalani masa pidana.
Setelah bebas, Jajang membuka usaha produksi pakan ayam dan bebek skala rumahan dengan memanfaatkan mesin pembuat pakan yang dipinjamkan pihak lapas.
Ditemui NadiKabar di Garut pada Kamis (20/8), pria berusia 48 tahun itu mengaku usahanya telah menghasilkan omzet sekitar Rp12 juta.
"Baru satu bulan keluar dari lapas, dan satu bulan ini saya merintis sudah ada yang order sampai 25 ton," kata Jajang.
Pengalaman serupa datang dari Miftahul Bowo Saputera, mantan napi yang kini bekerja di salah satu tambak budidaya ikan bandeng, nila, dan udang vaname di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah.
Bowo mengaku sempat kesulitan mencari pekerjaan setelah bebas. Ia kemudian memutuskan kembali ke Nusakambangan, tempat dirinya dahulu mendapatkan pelatihan budidaya perikanan selama menjalani masa pembinaan.
"Saya mengikuti program pelatihan di tambak. Saya ikut budidaya udang, bandeng dan ikan nila. Setelah bebas kemarin, pihak vendor mempercayakan saya mengurus tambak," ucap Bowo. Vendor yang dimaksud merupakan mitra swasta yang bekerja sama dengan pihak lapas dalam kegiatan budidaya perikanan.
Keputusan Bowo kembali bekerja di lingkungan Nusakambangan sempat diragukan keluarganya. Namun, ia memiliki alasan tersendiri untuk memilih pekerjaan tersebut.
"Saya mikirnya di luar susah cari kerja, bisa nanti kumat lagi (mengulangi tindak pidana), masuk (penjara) lagi. Mending bekerja di sini (Nusakambangan) saja," jelas Bowo.
Upaya pembenahan pemasyarakatan, yang dicanangkan Menteri Agus, tidak hanya menyangkut pengawasan dan pembinaan warga binaan. Hal ini nampak dari kegiatan sejumlah lapas dan rutan yang mulai memanfaatkan kegiatan produktif untuk memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar.
Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Imipas Agus Andrianto agar unit pelaksana teknis pemasyarakatan lebih terbuka terhadap lingkungan sekitarnya. Selain mengurangi kesan menyeramkan, keterbukaan tersebut diharapkan dapat memperluas kontribusi lapas dan rutan bagi masyarakat.
Di Lapas Kelas IIA Karawang, misalnya, kegiatan ketahanan pangan yang melibatkan warga binaan dikembangkan menjadi program wisata edukasi atau edutrip di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Melalui program tersebut, masyarakat dapat mengenal kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan yang dijalankan di LASKAR Farm.