NADIKABAR.COM — Ketika masyarakat memahami bahwa donor darah memiliki manfaat timbal balik --saling menguntungkan antara pendonor dan penerima--, cara pandang mereka akan berpindah dari "menolong orang lain" menjadi "menjaga kesehatan diri sambil menyelamatkan nyawa".

Darah manusia adalah satu kebutuhan dalam sistem kesehatan yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan kecanggihan teknologi, pembangunan rumah sakit, atau penambahan anggaran kesehatan.

Tidak ada pabrik yang bisa memproduksi darah manusia sebagai pengganti donor. Satu-satunya sumber darah bagi pasien yang membutuhkan transfusi—entah karena kecelakaan, operasi besar, atau kondisi darurat lain —adalah sumbangan sukarela dari manusia lain.

Pada kenyataannya, sebagian besar dari kita masih berstatus sebagai replacement donor (pendonor pengganti), yakni orang yang mendonorkan darahnya hanya karena diminta oleh rumah sakit untuk menolong kerabat yang sedang dirawat.

Kita masih terjebak dalam pola pikir reaktif dan musiman, bukan preventif dan berkelanjutan. Dalam situasi darurat, media sosial dan grup percakapan mendadak dipenuhi permintaan bantuan mencari golongan darah tertentu. Solidaritas memang muncul, tetapi sering kali datang ketika waktu sudah sangat mendesak.

Padahal, ketersediaan darah seharusnya dipersiapkan sebelum pasien membutuhkannya. Artinya, ketika kebutuhan darah terus meningkat, donor tidak boleh hanya menjadi gerakan spontan saat pasien berada dalam kondisi darurat.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kebutuhan ideal darah di Indonesia diperkirakan mencapai 5,5 hingga 6 juta kantong per tahun. Sementara itu, PMI secara konsisten baru mampu memenuhi sekitar 4 juta hingga 4,5 juta kantong per tahun. Terdapat kesenjangan sekitar 1,5 juta kantong dibandingkan kebutuhan ideal nasional.

Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan ketersediaan darah masih menjadi pekerjaan besar bagi sistem kesehatan Indonesia. Darah dibutuhkan untuk berbagai kondisi, mulai dari kecelakaan, operasi besar, perdarahan saat persalinan, hingga pasien penyakit kronis, seperti thalassemia yang memerlukan transfusi berulang.