NADIKABAR.COM — Tangan yang mulai rapuh seorang lelaki itu setia mendorong kursi roda putrinya, menyusuri lorong demi lorong bursa kerja di Gedung Smesco, Jakarta.

Di setiap dorongan, tersimpan ikhtiar seorang ayah yang ingin melihat putri semata wayangnya memiliki masa depan dan kesempatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Meski dia tahu, dunia kerja belum selalu menyediakan ruang yang ramah bagi anaknya.

Hari itu, berbekal gelar sarjana Ilmu Komunikasi, pengalaman magang di RRI dan bekerja di bank swasta, anak perempuan itu telah mengirim lebih dari sepuluh lamaran sejak lulus pada 2024.

Namun, pekerjaan yang diharapkan belum juga didapat. Sang ayah tak meminta putrinya diistimewakan. Ia hanya ingin kesempatan terbuka, agar anaknya tak kalah bahkan sebelum sempat menunjukkan kemampuan.

"Kalau bisa untuk difabel, ya, bukan minta dikhususin, gitu kan. Harus ada peluangnyalah, biar enggak kalah sama yang normal," kata seorang ayah bernama Ami.

Suaranya bergetar hingga ia tak kuasa menahan tangis ketika menyampaikan harapan tersebut.

Berangkat dari Tanjung Duren menggunakan TransJakarta, ia berharap putrinya yang merupakan penyandang disabilitas bisa segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah pada 2024.

Di tengah ramainya bursa kerja, sang ayah mengaku masih kebingungan mencari perusahaan yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, terutama yang sesuai dengan latar belakang pendidikan putrinya di bidang komunikasi.

"Tadi saya sudah tanya, sebenarnya khusus untuk difabel itu ada enggak? Katanya bisa semuanya. Cuma kita enggak tahu yang mana," kata dia.

Ami mengatakan, dirinya bersama anaknya, Amelia Zuhalmi (24), sempat mendatangi sejumlah stan perusahaan. Mereka juga mendapat arahan untuk mengikuti konseling atau pelatihan, tetapi belum memperoleh kepastian mengenai lowongan yang sesuai.

Kendala teknis turut menghambat upaya mereka. Saat mencoba melamar ke salah satu perusahaan ritel, proses pendaftaran belum dapat dilanjutkan karena pemindaian kode batang terkendala jaringan internet.

Bagi sang ayah, kedatangan ke bursa kerja tersebut menjadi salah satu upaya untuk membantu putrinya memperoleh penghasilan tetap.

Setelah lulus kuliah, Amelia sempat menjalani magang, tetapi belum mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan bulanan yang pasti.

Saat ditanya mengenai harapannya kepada pemerintah, sang ayah berharap tersedia jalur khusus yang memudahkan penyandang disabilitas mengakses kesempatan kerja.

Di sampingnya, Amelia juga terus berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara itu mengaku tertarik bekerja di bidang komunikasi, terutama menjadi penyiar radio.

Selain menyukai kegiatan menulis, Amelia juga memiliki ketertarikan membuat siniar atau podcast. Meski memiliki pengalaman tersebut, Amelia mengaku belum mendapatkan pekerjaan.

Sejak lulus kuliah, ia telah mengirimkan lebih dari sepuluh lamaran ke berbagai perusahaan dan sempat mengikuti wawancara, tetapi belum diterima.

"Keterbatasan juga mungkin ya. Enggak semua perusahaan mau menerima yang disabilitas, jadi masih agak sulit," ucap Amelia.

Amelia yang menggunakan kursi roda sejak lahir mengakui terkadang merasa minder ketika melihat pelamar lain lebih leluasa bergerak.

Namun, ia berusaha tidak membiarkan perasaan itu menghalanginya untuk terus mencari pekerjaan.

"Ada sebenarnya rasa minder. Cuma balik lagi, kalau minder terus enggak maju-maju," kata Amelia.

Menurut Amelia, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas masih perlu diperluas. Ia berharap semakin banyak perusahaan menyediakan lowongan yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas, termasuk posisi yang sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikan mereka.

"Harapannya ke depan, semoga beberapa perusahaan menyediakan khusus disabilitas dan bisa menerima pekerja disabilitas," kata dia.