Usep juga menunjukkan meja gambar yang terbuat dari kaca dengan tiang besi yang sudah berumur puluhan tahun. Meja gambar itu digunakan untuk menggambar, melukis hingga membuat sketsa bangunan. Ukurannya beragam, ada meja yang digunakan dengan cara duduk, ada juga berdiri.

"Ini sebenarnya meja gambar 1930, kalau ininya (kaca) masih baru, tapi kalau rangkanya rangka yang asli," terang Usep.

Puas berkeliling di ruang utama, NadiKabar diajak ke rooftop Gedung Sabuga. Di sana ada Pesawat Gelatik. Pada masanya, pesawat itu digunakan oleh dosen hingga mahasiswa yang melakukan penelitian. Mesin pesawat ini masih lengkap, tapi tidak dipasang. Saat ini, tinggal tubuh pesawat saja yang dipamerkan.

Selain memiliki cerita panjang, pesawat ini saat ini menjadi spot foto yang disukai oleh para pengunjung. Menurut Usep, siswa hingga mahasiswa yang bersekolah di jurusan penerbangan kerap menjadikan pesawat ini sebagai alat praktik.

"Dulu disimpannya di Husein Sastranegara, sekarang disimpan di sini. Mahasiswa Jurusan Penerbangan bisa menggunakan pesawat ini sebagai alat praktik," ujarnya.

"Ini mesinnya ada, tapi kita belum rakit ya. Jadi beberapa yang harus memang dijaga, ini (baling-baling) kan kalau teman-teman datang ke sini kalau ada mesin, jadi kan suka ada yang iseng nih, diputer. Kita kan khawatir juga, ini kan tajam. Mesinnya ada, sebenarnya mau dirakit. Tapi kebayang kalau dirakit harus dipanasin, gimana kalau ada anak-anak. Tapi suatu saat akan dipasang ulang," tambahnya.

Pada zona 4, pengunjung akan disuguhkan fasilitas audio-visual berbentuk kubah raksasa yang dirancang untuk menampilkan proyeksi visual melingkar penuh 360 derajat.

Sajikan materi belajar yang imersif, sarana ini memadukan ilmu pengetahuan, sejarah, dan teknologi media modern. Penonton dapat merasakan sensasi berada langsung di tengah tayangan visual tanpa harus mengenakan kacamata VR.

Di ruangan tersebut terdapat banyak kursi, pemutaran film di tempat ini dijadwalkan dan tidak ada setiap waktu.

NadiKabar berkesempatan secara khusus menjajal Teater Imersif dan Kubah 360, dengan duduk di bagian tengah dan posisi senderan kursi menurun. Saat film diputar kita akan menyaksikan tayangan dengan posisi memutar dan tentunya bagi siapa saja yang baru pertama menyaksikan film tersebut akan merasa mual atau pusing.

"Ini dome yang kita punya. Jadi sebenarnya pengunjung tuh lebih suka ini, jadi ini tujuan utamanya," kata Usep.

Usep menjelaskan bahwa bangunan tersebut sudah ada sejak lama, sekitar 30 tahun yang lalu. Bangunan ini memang sejak awal menjadi tujuan utama yang dicari oleh para pengunjung. Ciri khas yang membedakannya dari tempat lain adalah bentuknya yang berupa kubah. Menurutnya, selain di planetarium, tempat seperti ini rasanya baru dimiliki oleh pihak mereka dan sudah lama dimiliki oleh ITB.

"Film, sementara kami punya koleksi baru dua. Sementara baru dua koleksi, satu dari Empat Pilar dan satu lagi sumbangan dari Paragon. Nah kami sebenarnya sudah dapat sumbangan lagi dari Bosscha. Bosscha itu yang terkait cerita di sana, sedang dicoba disesuaikan di sini. Mungkin karena harus ada penyesuaian suara, gambar. Jadi kami sedang memperbaiki, mudah-mudahan katanya sih Oktober sudah ada," pungkasnya.