Karena ukuran partikel abu vulkanik sangat kecil, masker biasa atau masker kain belum tentu memberikan perlindungan yang optimal terhadap partikel halus.
Dr. Daryono menganjurkan penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi lebih tinggi, seperti N95 atau KN95, apabila masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan saat terjadi sebaran abu vulkanik.
Masker tersebut dirancang untuk menyaring partikel halus dengan lebih baik dibandingkan penutup wajah biasa.
Selain masker, penggunaan kacamata pelindung juga dapat membantu mengurangi risiko abu masuk ke mata.
Langkah paling sederhana untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik adalah membatasi aktivitas di luar ruangan.
Apabila tidak ada keperluan mendesak, masyarakat sebaiknya berada di dalam ruangan selama terjadi sebaran abu.
Pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi kemungkinan abu masuk ke dalam rumah. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dari lembaga yang berwenang mengenai arah sebaran abu dan perkembangan aktivitas gunung api.
Bagi warga yang terpaksa keluar rumah, penggunaan masker dengan filtrasi yang memadai dan kacamata pelindung menjadi langkah penting.
Dalam menghadapi erupsi, masyarakat perlu mengandalkan informasi resmi dan tidak terburu-buru menyimpulkan hubungan tim redaksi satu fenomena dengan fenomena lainnya.
Di sisi lain, ancaman nyata seperti abu vulkanik tetap harus menjadi perhatian. Material yang tampak seperti debu biasa ini dapat membawa partikel halus yang berisiko mengganggu kesehatan.
Karena itu, ketika terjadi sebaran abu akibat erupsi gunung api, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan pelindung mata, serta memakai masker dengan tingkat filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95.