NADIKABAR.COM — Siti Nurmaini masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Teknologi Kesehatan. Siti menggagas dan mengembangkan aplikasi TeleOTIVA, inovasi skrining kanker serviks berbasis Artificial Intelligence (AI) dan telemedicine untuk pemerataan layanan kesehatan di Indonesia.

Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Sejumlah anggota Dewan Pakar hadir langsung dalam rapat dan yang berhalangan hadir tetap memberikan pandangan serta kontribusi dalam pembahasan.

Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 yaitu Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

Ada empat kategori penghargaan di DPD RI Awards 2026, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan dan Pelestari Budaya Daerah.

Siti Nurmaini merupakan Profesor dari Universitas Sriwijaya (Unsri), yang mengembangkan TeleOTIVA sejak tahun 2020. TeleOTIVA adalah produk inovasi kesehatan digital yang mengintegrasikan AI, computer vision dan telemedicine untuk mendukung skrining dan deteksi dini kanker serviks.

Aplikasi TeleOTIVA sudah tersedia di App Store dan Play Store. Siti menyebut TeleOTIVA membantu tenaga kesehatan dalam mendokumentasikan citra serviks, mengidentifikasi area serviks dan lesi yang dicurigai serta menyediakan informasi pendukung untuk proses evaluasi dan pengambilan keputusan klinis.

Melalui fitur telemedicine, hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga medis atau dokter ahli tanpa terkendala jarak, sehingga mendukung pelayanan di puskesmas dan wilayah dengan keterbatasan tenaga spesialis. TeleOTIVA juga menyediakan pencatatan pemeriksaan, dokumentasi hasil dan pemantauan tindak lanjut pasien secara digital.

Inovasi ini bertujuan meningkatkan akses, konsistensi, efisiensi, dan pemerataan layanan skrining kanker serviks, khususnya bagi masyarakat di daerah dengan akses kesehatan terbatas.

TeleOTIVA dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan klinis, bukan pengganti tenaga medis serta memiliki potensi untuk diterapkan dan dikembangkan pada jejaring fasilitas kesehatan secara lebih luas di Indonesia. Menurut Siti, TeleOTIVA telah memberikan dampak nyata dalam memperluas akses skrining prakanker serviks berbasis AI dan telemedicine.

Hingga kini, TeleOTIVA telah memeriksa lebih dari 2.000 subjek, melibatkan 50 lebih tenaga medis dan dokter spesialis, dengan kemampuan model mencapai 98,14% akurasi, 95,65% sensitivitas, dan 98,82% spesifisitas.

Dari sisi inovasi, Siti memastikan TeleOTIVA sudah memiliki portofolio kekayaan intelektual. Hilirisasi inovasi ini juga diperkuat melalui realisasi lisensi paten bersama PT INTI Konten Indonesia (INTENS) pada tahun 2026.

Siti menyebut pengembangan TeleOTIVA telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah, termasuk penelitian pada Informatics in Medicine Unlocked, IEEE Access, Scientific Reports, dan Sensors yang membahas deteksi, segmentasi, interpretasi, serta pengembangan AI untuk skrining serviks.

Bagi Siti, capaian tersebut memperkuat TeleOTIVA sebagai inovasi yang berbasis riset, terlindungi secara intelektual, terhilirisasi dan berdampak langsung bagi layanan kesehatan masyarakat.