Di tempat tersebut, para anggotanya berkumpul untuk membaca dan mendiskusikan berbagai buku, termasuk karya-karya yang dilarang beredar pada masa Orde Baru. Diskusi mereka menjadi sarana memahami situasi politik dan mencari gagasan alternatif di luar narasi pemerintah.
Biru Laut yang merupakan mahasiswa Sastra Inggris,menjadi salah satu anggota Winatra. Ia bergabung bersama sejumlah mahasiswa lain yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda, tetapi dipertemukan kegelisahan terhadap kondisi sosial dan politik Indonesia saat itu.
Selain Biru Laut, Winatra juga beranggotakan teman-temannya, yakni Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dan Daniel Tumbuan. Anggota lainnya meliputi Gusti, Naratama, Ratih Anjani, Julius, hingga Gala Prayana yang dikenal sebagai Sang Penyair.
Mereka memiliki peran dan dinamika masing-masing dalam kelompok, termasuk ketika harus mengambil keputusan di tengah meningkatnya tekanan aparat.
Kisah Winatra kemudian berkaitan dengan penghilangan paksa aktivis menjelang Reformasi 1998 yang menjadi konflik cerita. Sejumlah anggotanya ditangkap dan menghilang, meninggalkan keluarga serta sahabat yang terus mencari kejelasan mengenai nasib mereka.