Peneliti juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan kondisi kesehatan dan gaya hidup peserta. Pada perempuan dengan konsumsi alkohol yang lebih tinggi, konsumsi kopi berkaitan dengan kepadatan tulang yang lebih rendah di bagian leher tulang paha. Sementara itu, hubungan positif tim redaksi konsumsi teh dan kepadatan tulang terlihat lebih kuat pada perempuan yang mengalami obesitas.

Para peneliti menjelaskan bahwa osteoporosis, yang ditandai dengan rendahnya kepadatan mineral tulang, merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang dapat memengaruhi berbagai kelompok usia, jenis kelamin, dan latar belakang.

Secara global, sekitar satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas mengalami patah tulang yang berkaitan dengan osteoporosis. Perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi karena umumnya mempunyai massa tulang yang lebih rendah dan mengalami kehilangan massa tulang yang lebih cepat setelah menopause.

Penelitian ini dilakukan karena faktor pola makan dinilai memiliki peran penting dalam mencegah berbagai penyakit tidak menular dan dapat memengaruhi kesehatan tulang. Kopi dan teh juga menjadi dua jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi masyarakat di berbagai belahan dunia.

Salah satu penulis penelitian, Ryan Liu, mengatakan bahwa kandungan katekin yang banyak ditemukan dalam teh berpotensi membantu pembentukan tulang sekaligus memperlambat proses pemecahan tulang.