Sementara itu, seorang warga bernama Nugrah mengaku hampir setiap hari anak sekolah melintasi jembatan tersebut. Menurutnya, hal itu dilakukan lantaran akses memutar yang sangat jauh.

"Setiap hari anak SD lewati ini jembatan, ditutup juga tetap ji dibuka karena akses utama. Palopo ini kota loh, masa masih ada kondisi begini?" bebernya.

Nugrah menambahkan, Pemerintah Kota Palopo harus segera mencari solusi atas kondisi tersebut. Menurutnya, pembiaran terhadap kondisi jembatan sama saja dengan mencari tumbal yang baru.

"Jangan ada tumbal lagi baru kita menangis, jadi wali kota di awal menjabat langsung kunjungan di jembatan ini, jadi tuntaskan janji itu. Jangan hanya gambo (bohong), sampai sekarang kan kita tidak tahu apa yang menjadi progres dia, kasihan anak sekolah," pungkasnya.

Diketahui, pria bernama Marwan (50) tewas usai terjatuh dari jembatan gantung setinggi 6 meter di Kompleks Cempaka, Kelurahan Pajalesang, Kecamatan Wara, Palopo pada Selasa (10/2) sekitar pukul 18.40 Wita. Korban terjatuh saat menginjak kayu alas jembatan yang rapuh.

"Setelah salat Magrib korban ini menyeberang sungai bersama istrinya menuju penggilingan berasnya di sebelah, katanya dia mau ambil beras. Saat di tengah jembatan terpeleset, kayu jembatan patah dan korban jatuh ke sungai," kata Lurah Pajalesang, Irwan kepada NadiKabar, Rabu (11/2).