NADIKABAR.COM — Raksasa semestinya ditakuti, namun Manchester United kini justru memancing simpati. Dalam situasi kritis, Setan Merah bakal menjamu AS Roma di Liga Champions, Rabu (4/11) dini hari WIB di Old Trafford.

Sembilan laga beruntun tanpa kemenangan di semua ajang jadi cermin kehancuran terang benderang. Tiga imbang dan enam kekalahan mencatatkan rekor terpuruk klub sejak musim 1988/1989.

Kekalahan 0-2 dari Chelsea akhir pekan lalu menjadi kulminasi petaka. Kartu merah Lisandro Martinez seolah menyempurnakan cerita tentang tim yang hilang arah.

Tujuh poin dari sembilan laga menempatkan MU hanya satu tingkat di atas jurang degradasi Premier League. Opta bahkan memprediksi peluang terseret ke papan bawah mencapai 20,77 persen.

Di Liga Champions, nasib Setan Merah tak kalah gelap. Dihajar Atletico Madrid 0-2 dan dilumat Como 1-4 menegaskan betapa rapuhnya benteng MU musim ini.

Como asuhan Cesc Fabregas membedah MU lewat formula sederhana namun mematikan. Menguasai 54 persen penguasaan bola dan unggul jumlah peluang, Red Devils dibuat mati kutu.

Skema pressing tinggi Michael Carrick justru berbalik menjadi petaka. Statistik mencatat, saat melawat ke Stadio Giuseppe Sinigaglia, MU merebut bola 39 kali namun hanya tercipta 4 tembakan tepat sasaran.

Bruno Fernandes sampai blak-blakan mengritik skema man-to-man yang dinilainya setengah hati. Sang kapten sempat ditepikan ke bangku cadangan karena itu, sebelum akhirnya dipaksa kembali mengisi lini depan.

Badai cedera kian menyempurnakan nestapa di ruang ganti pemain. Absennya Kobbie Mainoo membuat alur pertahanan kehilangan penyeimbang utama.