Ia mengatakan gagasan itu menjadi upaya menjadikan penyelenggaraan ibadah haji sebagai ruang memperkuat toleransi, kebinekaan, dan semangat gotong royong antarmasyarakat. Indonesia memiliki karakter masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, pelayanan kepada jemaah tidak hanya dapat didukung oleh umat Islam, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat dalam semangat kemanusiaan dan persaudaraan.
"Fokus kita adalah memastikan jemaah haji menjadi simbol toleransi bagi umat beragama. Nantinya, petugas-petugas haji dapat melibatkan saudara-saudara kita dari kalangan Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan sebagainya," kata Dahnil di Manado, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (31/10).