Dia kembali menjelaskan bahwa pihak kelurahan sempat memintanya datang ke kantor untuk mediasi. Namun, Novrinia meminta proses tersebut ditunda agar dapat didampingi suaminya.

"Saya diminta ke kelurahan saat itu juga dan harus sendiri, tidak boleh sama suami. Lah saya di rumah menjaga bayi dan suami lagi kerja. Begitu saya minta ditunda besok biar ada pendamping, malah ditakut-takuti soal konsekuensi hukum," ungkapnya.

Novrinia juga menyayangkan adanya permintaan untuk menghapus video sebelum persoalan tersebut mendapatkan penyelesaian.

"Pak Lurah juga minta videonya di-take down. Jujur saya berat hati kalau main hapus gitu aja. Orang yang membakar sampah sampai sekarang belum ke rumah minta maaf, kalau cuma selesai begitu saja ya saya yang rugi," tegas Novrinia.

Di sisi lain, Novrinia mengatakan persoalan pembakaran sampah tersebut bukan baru sekali terjadi. Menurut dia, pembakaran dilakukan hampir setiap hari dan baru kali itu dirinya menegur karena asap yang masuk ke rumah berbau menyengat.

Dia mengaku semakin khawatir karena bayinya baru berusia sekitar satu bulan dan sebelumnya memiliki riwayat infeksi paru-paru.

"Saya siap maju demi anak saya," tegasnya.

Setelah video tersebut viral, persoalan itu juga mulai mendapat perhatian kepolisian. Novrinia mengatakan Kanit Polsek Batu telah menghubunginya melalui WhatsApp untuk menggali informasi mengenai kejadian tersebut.

"Kanit Polsek Batu sudah komunikasi via WhatsApp. Rencananya polisi mau sowan ke rumah untuk minta keterangan lebih lanjut. Saya berharap ada penanganan yang adil dan memberikan efek jera," tandasnya.

Novrinia berharap persoalan tersebut dapat ditangani secara adil. Dia juga meminta adanya tindakan terhadap pembakaran sampah yang menurutnya telah berulang kali dilakukan dan mengganggu lingkungan sekitar.

"Harapannya semoga pelakunya dikasih efek jera. Biar diproses sama polisi dan ada tindakan tegas," tandasnya.