NADIKABAR.COM — Koalisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu unggul tipis di pemilu yang digelar 27 Oktober. Namun, keunggulan itu tidak serta merta membuat Netanyahu bisa kembali memimpin. Apa sebabnya?
Komite Pemilu Pusat Israel (CEC) telah merilis hasil akhir resmi dari pemilu legislatif yang digelar 27 Oktober di mana koalisi Benjamin Netanyahu unggul atas kubu oposisi, namun gagal untuk meraih mayoritas dalam parlemen yang diperlukan untuk bisa membentuk pemerintahan.
CEC, seperti dilansir AFP dan The Times of Israel, Jumat (30/10/2026), mengumumkan hasil akhir pemilu Israel pada pagi ini waktu setempat, setelah merampungkan pemeriksaan akhir terkait adanya kesalahan atau aduan.
Berdasarkan data CEC, tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,9 persen dari jumlah pemilih yang memenuhi syarat -- sekitar 7,3 juta orang -- dengan total 5,716.655 suara yang masuk dan telah dihitung. Angka itu tercatat sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Hasil akhir yang diumumkan CEC menunjukkan koalisi sayap kanan Netanyahu memenangkan total 53 kursi, dari total 120 kursi parlemen atau Knesset yang diperebutkan. Partai Likud yang menaungi Netanyahu tetap menjadi fraksi tunggal terbesar dengan menguasai 27 kursi parlemen.
Kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, yang merupakan ketua Partai Yashar, memenangkan 48 kursi parlemen.