Dalam kesempatan ini, ia menyatakan bahwa daya beli di Indonesia tetap kuat, terutama terlihat dari tetap tingginya pertumbuhan di sektor transportasi dan pariwisata.
Kondisi itu terlihat juga dari peningkatan signifikan dari jumlah transaksi pembayaran elektronik menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang sampai di atas 100%. Apabila jumlah transaksi dengan QRIS meningkat drastis, tentunya itu menunjukkan banyaknya konsumsi yang terjadi.
"Sebenarnya yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan, termasuk di dalamnya adalah konsumsi di marketplace atau (belanja) online. Nah, pergeseran konsumsi ini tertangkap oleh BPS, sehingga kami dari Pemerintah meyakini bahwa memang daya beli masyarakat itu terjaga sangat bagus," kata Dradjad.
Lebih lanjut, Dradjad menerangkan bahwa perekonomian daerah-daerah dengan basis industri pengolahan yang kuat ternyata terbukti mampu tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
"Jadi daerah-daerah yang basis industri pengolahannya kuat, kawasan industrinya bagus, itu tumbuhnya juga sangat-sangat bagus. Hal ini menjadi basis bagi Kemenko Perekonomian untuk pembuatan kebijakan-kebijakan ke depan. Selain itu, untuk menjaga pertumbuhan ke depan, persoalan net export juga perlu diperhatikan," kata Dradjad.