Seno mengungkapkan bahwa keberhasilan dokumentasi itu menegaskan pentingnya hutan Kayan Mentarang sebagai benteng pertahanan terakhir bagi satwa-satwa langka.
"Rekaman data visual bernilai tinggi itu baru berhasil diunduh pada 2026 saat tim BTNKM menggelar kegiatan SMART Patrol," kata dia.
"Spesies ini sangat sulit dijumpai secara langsung. Dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data keberadaannya. Ini menjadi pengingat bahwa hutan TNKM memiliki peran vital sebagai habitat satwa liar, sehingga perlindungan kawasan harus dilakukan secara konsisten," kata dia.
Secara ekologis, hadirnya predator puncak terkecil Kalimantan ini di dua lokasi berbeda dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikator kuat bahwa ekosistem hutan di Malinau masih sangat alami, sehat, dan minim gangguan aktivitas manusia.