NADIKABAR.COM — Kabupaten Banyuwangi telah sukses menggelar Gandrung Sewu pada akhir pekan ini, Sabtu (24/10), di Pantai Boom Marina, Banyuwangi. Tahun ini merupakan tahun ke-14 pelaksanaan Gandrung Sewu, perjalanan panjang sebuah festival.
Gandrung Sewu telah menempuh perjalanan panjang sejak pertama kali digelar pada 2012. Berawal dari keinginan mengangkat sejarah Tari Gandrung, festival tari kolosal ini terus berkembang menjadi panggung kebanggaan Banyuwangi.
"Selama lebih dari satu dekade, ribuan penari Gandrung telah tampil bersama di kawasan Pantai Boom Marina, dengan latar Selat Bali. Setiap pergelaran membawa tema berbeda, mengangkat kekayaan sejarah, adat, perjuangan, hingga keberagaman budaya yang hidup di Banyuwangi," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada Jumat (23/10).
Perjalanan Gandrung Sewu dimulai melalui tema Jejer Gandrung pada 2012, yang mengisahkan kelahiran Tari Gandrung.
Setahun berikutnya, tema Paju Gandrung mengangkat kehidupan dan tradisi pertunjukan Gandrung pada masa lalu. Sejak itu, Gandrung Sewu terus berkembang menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah dan identitas Banyuwangi melalui seni pertunjukan.
Pada tahun-tahun berikutnya, Gandrung Sewu menghadirkan beragam kisah. Mulai dari "Seblang Subuh" (2014), "Podo Nonton" (2015), "Seblang Lukinto" (2016), hingga "Kembang Pepe" (2017), yang mengangkat kisah perjuangan masyarakat Banyuwangi.
Tema "Layar Kumendung" pada 2018 dan "Panji-Panji Sunangkoro" pada 2019 juga membawa penonton menyusuri sejarah perlawanan terhadap penjajahan.
Gandrung Sewu kemudian terus memperluas makna dan jangkauannya. Pada 2021, tema "Gandrung Sewu Nusantara" menghubungkan warga Banyuwangi di berbagai daerah dan luar negeri melalui semangat pelestarian budaya.
Tahun 2022, "Sumunare Tlatah Blambangan" mengangkat kilau sejarah dan kebangkitan Bumi Blambangan.
Adapun tema "Omprog: The Glory of Art" pada 2023 menonjolkan mahkota khas penari Gandrung sebagai simbol keagungan seni. Pada 2024, "Payung Agung: The Diversity of Culture" mengangkat keberagaman dan harmoni budaya Banyuwangi.
Beranjak ke 2025, "Selendang Sang Gandrung" membawa pesan tentang warisan budaya, cinta kasih, dan perjuangan masyarakat Osing dalam merawat tradisi.
"Tahun 2026, perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu digelar pada malam hari, menghadirkan pengalaman berbeda melalui perpaduan seni tradisi, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan," kata Ipuk.
Mengusung tema Kembang Dermo, Gandrung Sewu 2026 mengangkat nilai adat dan tradisi yang hidup serta berkembang di tengah masyarakat Banyuwangi.
Pertunjukan malam bertajuk "Gandrung Sewu Glow in the Dark" ini, kata Ipuk, menjadi langkah baru dalam menghadirkan seni tradisi kepada publik tanpa meninggalkan akar budayanya.
"Perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana berbeda. Panggung malam membuka ruang eksplorasi artistik yang lebih luas, dengan permainan cahaya dan visual yang memperkuat kemegahan gerak ribuan penari Gandrung," tutur Ipunk.
Gandrung Sewu sendiri berakar pada Tari Gandrung, kesenian khas Banyuwangi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing.
Kata 'Gandrung' bermakna terpikat atau mencintai. Dalam perjalanannya, tari ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang terus diwariskan lintas generasi.
"Melalui Gandrung Sewu, pelestarian budaya juga berjalan beriringan dengan regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat," kata Ipuk.
Dari Jejer Gandrung hingga Kembang Dermo, perjalanan Gandrung Sewu menunjukkan tradisi bukan sesuatu yang berhenti di masa lalu.
Ia terus hidup, tumbuh, dan menemukan cara baru untuk menyapa zaman tetap berakar pada warisan leluhur, sekaligus menghadirkan keajaiban bagi generasi masa kini.