NADIKABAR.COM — Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) resmi meluncurkan Indonesia ESG Bond Index.

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan kehadiran indeks baru ini mempertegas komitmen penguatan ekosistem investasi berkelanjutan sekaligus membuka peluang hadirnya produk-produk investasi baru di pasar utang Indonesia.

Iding menyampaikan bahwa peluncuran indeks ini melengkapi ragam acuan investasi berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) yang sebelumnya telah lebih dulu hadir di pasar saham.

Ia menyebut langkah ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi perkembangan instrumen pendapatan tetap berkelanjutan.

"Harapannya dengan indeks yang baru ini dapat menjadi dasar bagi lahirnya produk-produk investasi baru, termasuk reksadana pendapatan tetap berbasis indeks ESG. Dengan pilihan produk yang semakin beragam, kita harapkan partisipasi investor dalam pembiayaan keberlanjutan juga akan berjalan semakin luas," ujar Iding dalam acara Peluncuran ESG Bond Index di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (6/11).

Iding memaparkan pasar modal Indonesia sebenarnya telah mencatatkan rekam jejak yang signifikan dalam menyalurkan pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial.

Sepanjang periode 2018 hingga 2026, akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berwawasan lingkungan, sosial, dan keberlanjutan (green, social, and sustainable bonds) telah mencapai Rp89,46 triliun yang diterbitkan oleh 15 entitas penerbit.

"Angka ini, Bapak Ibu, menunjukkan bahwa pasar utang memiliki peran yang nyata dalam mendukung pembiayaan keberlanjutan. Namun tentu, kita tidak boleh berpuas diri. Bila kita lihat, ruang pengembangannya masih luas," tuturnya.

Selain menopang instrumen obligasi, komitmen pasar modal terhadap prinsip keberlanjutan juga tercermin dari meningkatnya keterbukaan informasi korporasi.

Berdasarkan data BEI, sebanyak 85 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keberlanjutan pada 2025, dan lebih dari 61 perusahaan yang masuk dalam indeks IDX-80 telah menyatakan komitmen net zero emission.

Hingga September 2026, total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) ESG Fund di Indonesia yang mencakup produk non-pasif, reksa dana indeks, hingga Exchange Traded Fund (ETF) telah menembus Rp5,85 triliun.

Melalui Indonesia ESG Bond Index, BEI mendorong para manajer investasi, lembaga dana pensiun, hingga perusahaan asuransi untuk memanfaatkan acuan ini dalam mengambil keputusan investasi yang terstruktur.

"Tujuan utama bersama saya yakin sama, adalah bagaimana komitmen perusahaan memperoleh dukungan dana dan dana investor dapat disalurkan untuk kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan," kata Iding.