Dari sekitar 20 varian yang dikembangkan, selai mangga, serai, dan jahe telah digunakan hotel bintang lima di Bali. Lewat pameran ini, Sudanti berharap produknya semakin dikenal para chef dan membuka peluang kerja sama dengan hotel, restoran, serta penyedia katering maskapai.
Peserta lainnya, Naza De Coco dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengolah air kelapa menjadi nata de coco bernilai jual. Usaha yang dirintis Enok Sri Kurniasih ini berkapasitas produksi 20 ton per minggu, dengan sekitar 90 persen pasar berasal dari segmen B2B, terutama pelanggan industri.
"Kami UMKM dari desa, tapi dengan dibantu Pertamina pasar kami terbuka tanpa batas. Kami banyak belajar bisnis plan, bisnis canvas, sampai marketplace online," ucapnya.
Sebagai pelaku usaha penyandang disabilitas, Enok melibatkan hampir 50 perempuan di perdesaan dalam kegiatan usahanya. Selain untuk kebutuhan pangan, ia mengembangkan nata de coco sebagai bahan alternatif pengganti kulit untuk produk seperti sepatu dan tas.
Melalui pembinaan dan perluasan akses pasar, Pertamina mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Upaya ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-3 dalam mendorong kewirausahaan serta Asta Cita ke-6 dalam memperkuat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dari desa.