Bahira juga memeriksa bagian punggung Muhammad SAW. Ia melihat tanda kenabian di tim redaksi kedua bahunya yang disebut dalam riwayat sebagai salah satu tanda kenabian.
Setelah itu, Bahira bertanya kepada Abu Thalib mengenai hubungan Muhammad dengannya. Abu Thalib awalnya menjawab bahwa Muhammad adalah anaknya, sebelum kemudian menjelaskan bahwa Muhammad merupakan anak saudaranya, Abdullah, yang telah meninggal sebelum Muhammad lahir.
Bahira lalu menyarankan Abu Thalib segera membawa Muhammad kembali ke Makkah. Ia juga mengingatkan agar Muhammad dijaga dari orang-orang yang mungkin berniat buruk kepadanya.
Abu Thalib kemudian membawa Muhammad SAW kembali ke Makkah setelah urusan dagang mereka di Syam selesai.
Kisah perjalanan tersebut kemudian dikaitkan dengan keberadaan sebuah pohon di kawasan Buqa'awiyya, Yordania.
Mengutip buku Islam di Yordania, Maroko, dan Spanyol karya Muhammad Fadhilah Zein, Pangeran Ghazi bin Muhammad bersama otoritas Yordania disebut menemukan referensi mengenai keberadaan pohon tersebut dalam naskah kuno yang tersimpan di Royal Archives.
Pohon itu kemudian diamati bersama sejumlah ulama, termasuk Syekh Ahmad Hassoun, yang pernah menjabat sebagai mufti besar Suriah.
Dari pengamatan tersebut, muncul keyakinan bahwa pohon yang berada di tengah kawasan gurun itu merupakan pohon yang disebut dalam kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Syam.
Pohon tersebut kemudian dirawat dan dipantau oleh pemerintah Yordania. Keberadaannya juga dianggap unik karena mampu tumbuh di tengah kawasan yang kering dan gersang.