NADIKABAR.COM — Ponsel lipat perdana besutan Apple, iPhone Duo, dilaporkan gagal melewati serangkaian uji ketahanan ekstrem yang dilakukan oleh pengulas teknologi Zack Nelson dari kanal YouTube JerryRigEverything.
Dikutip dari laporan Gizmochina pada Sabtu (24/10) waktu setempat, hasil pengujian tersebut menyoroti sejumlah titik lemah pada perangkat generasi pertama tersebut, terutama pada mekanisme engsel titanium dan panel layar fleksibel bagian dalam.
Dalam uji ketahanan terhadap partikel kotoran, perangkat tersebut dikubur di dalam pasir, debu, dan tanah. Hasilnya, butiran kotoran menyusup ke dalam engsel dari berbagai celah dan membuat ponsel tidak dapat tertutup rapat secara sempurna.
Kondisi tersebut terjadi meski Apple menyematkan sertifikasi ketahanan air dan debu berperingkat IP68 pada iPhone Duo. Daya tarik magnet internal pada perangkat pun tidak mampu mengatasi hambatan dari butiran pasir yang tersangkut di area engsel.
Kelemahan lain terlihat pada uji tekuk arah berlawanan (bend test). Rangka titanium ponsel memang terbukti kokoh dan tidak patah saat ditekuk ke belakang. Namun, tekanan ekstrem tersebut menyebabkan kerusakan permanen pada panel AMOLED di layar bagian dalam.
Kerusakan layar ditandai dengan munculnya garis hijau vertikal, yang kemudian bertambah banyak hingga panel sentuh berhenti merespons sepenuhnya. Biaya penggantian layar fleksibel bagian dalam tersebut diperkirakan mencapai 1.000 dolar AS atau sekitar Rp15,7 juta.
Untuk uji ketahanan gores, layar luar berbahan Ceramic Shield 2 menunjukkan daya tahan tinggi terhadap goresan benda tajam. Sementara itu, layar fleksibel bagian dalam yang dilapisi lapisan nano-texture dinilai cukup baik dalam menyamarkan goresan visual, namun permukaannya tetap rentan terhadap tekanan fisik yang tajam.
Nelson mengungkapkan bahwa sebagian besar ponsel lipat generasi terbaru yang ia uji biasanya mampu bertahan dari rangkaian tes tersebut, sedangkan iPhone Duo menunjukkan karakteristik kerentanan umum yang kerap dijumpai pada perangkat lipat generasi perdana.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah