NADIKABAR.COM — Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) mencatat Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, tiga kali meletus pada periode pengamatan Minggu (1/11).

"Tinggi letusan 1.000 meter, berwarna kelabu," kata personel Pos PGA Karangetang, Muhamad Fadlan Rasyidin Bina di Manado, Senin.

Dia menjelaskan, letusan pertama terjadi pada pukul 19:23 WITA dengan durasi lebih kurang 93 detik.

Kemudian diikuti letusan kedua yang terjadi pukul 19:38 WITA dengan durasi lebih kurang 151 detik.

Sementara letusan ketiga terjadi pada pukul 21:18 WITA dengan durasi 88 detik.

Teramati guguran lava pijar ke arah selatan sekitar 200-700 meter, ke arah barat dan barat daya (Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang sekitar 700-1.000 meter.

Teramati di CCTV, pada malam hari sinar api kawah selatan sekitar 5-50 meter dan kawah utara sekitar 5-300 meter.

Berdasarkan kegempaan, tercatat tiga kali gempa letusan, 26 kali gempa guguran, 124 kali gempa embusan, 19 kali gempa tremor non-harmonik, 25 kali gempa tremor harmonik, satu kali gempa hybrid/fase banyak, enam kali gempa vulkanik dangkal, dua kali gempa vulkanik dalam, serta 11 kali gempa tektonik jauh.

"Terdengar suara dentuman dan gemuruh lemah hingga kuat," katanya.

Tingkat aktivitas Gunung Karangetang Level II (Waspada) dengan rekomendasi, masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 kilometer.

Masyarakat diharapkan mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.