NADIKABAR.COM — Gelombang demonstrasi besar-besaran yang berujung kerusuhan di penjuru Prancis sejak 17 Oktober lalu berdampak pada industri hiburan negara tersebut hingga Hollywood.
Situasi memanas yang dipicu protes atas lonjakan biaya hidup dan memburuknya fasilitas sekolah umum itu memaksa bioskop mengubah jam operasional, hingga sejumlah produksi film Hollywood menyalakan alarm siaga.
Prancis kini jadi tuan rumah bagi sejumlah tayangan Hollywood, salah satunya adalah musim keempat The White Lotus sedang menyelesaikan pengambilan gambar di French Riviera.
Beberapa lainnya yang turut khawatir dengan kondisi Prancis adalah prekuel Ocean garapan Bradley Cooper yang syuting di Monako, dan film Pumping Black yang dibintangi Natalie Portman tengah diproduksi di Nice.
Variety pada Jumat (23/10) memberitakan produser eksekutif Raphaël Benoliel yang mengawal Pumping Black mengungkapkan kru Amerika sempat dilanda kekhawatiran meski jadwal mereka belum terganggu.
"Orang-orang Amerika memang bertanya, 'Menurutmu ini berbahaya?' Kami menjawab, 'Dari tempat kami berada, kami rasa aman.' Dan semuanya berjalan lancar," tutur Benoliel.
Namun, ia tak menampik bahwa departemen keamanan studio di Hollywood kini sudah mengeluarkan peringatan keras mengenai Prancis.
"Departemen keamanan internal studio secara gamblang menyatakan, 'Hati-hati. Hindari Paris. Hindari Marseille.' Karena kejadian ini, Prancis sekarang ditandai sebagai zona bermasalah," ungkapnya.
"Anda tahu bagaimana orang bilang, 'Jangan syuting di Ukraina sekarang,' atau di bagian tertentu Timur Tengah? Nah, Prancis kini masuk daftar itu," ia menegaskan.
Kepanikan serupa juga dirasakan tim produksi prekuel Ocean. Eksekutif Gaumont Isabelle Desgorges mengungkapkan krunya yang menginap di Nice sempat dilanda khawatir saat melihat aksi penjarahan toko pada akhir pekan dari kejauhan.
"Seluruh kru saya menginap di Nice, jadi ada sedikit kepanikan, apalagi ini film besar Amerika. Orang-orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi," kata Desgorges.
Ia pun mengkhawatirkan sentimen negatif yang mungkin membuat produser Amerika berpikir dua kali untuk datang ke Prancis dalam waktu dekat.
Situasi tersebut juga berdampak langsung ke jaringan bioskop, terutama setelah Presiden Emmanuel Macron memberlakukan jam malam di kota-kota strategis, seperti Paris, Marseille, hingga Lyon.
Jaringan bioskop raksasa UGC Ciné Cité Les Halles di Paris terpaksa membuat pemutaran film terakhirnya lebih awal menjadi pukul 19.00 agar penonton bisa pulang tepat waktu.
Presiden Federasi Nasional Bioskop Prancis (FNCF) Richard Patry mencatat sekitar 20 hingga 30 bioskop terdampak langsung oleh kebijakan jam malam tersebut.
"Tentu saja ini bioskop yang sangat penting, dan tutup lebih awal berdampak nyata. Beberapa orang tidak pergi ke sana karena jam malam. Itu realitasnya," ungkap Patry.
Kondisi terbaru, Prancis bersiap kerahkan 70 ribu polisi untuk mengamankan aksi protes yang bakal berlangsung pada Sabtu (24/10) waktu setempat.
Gelombang demonstrasi baru diperkirakan terjadi di seluruh Prancis pada Sabtu. Di Orleans, diprediksi sekitar 20 ribu hingga 30 ribu orang akan turun ke jalan. Namun, unjuk rasa dilarang digelar di pusat kota.
Sementara di kota Lyon, aksi protes juga tak boleh digelar di area pusat kota. Di Paris, pengunjuk rasa hanya diizinkan untuk berpawai di rute terbatas antara alun-alun Bastille dan Nation di bagian timur.
Berbagai pembatasan dan penurunan personel kepolisian tersebut menuai kritik. Amnesty International mengecamnya sebagai 'kemerosotan menuju praktik otoriter'. Alih-alih mengamankan, Amnesty berpendapat, langkah tersebut justru berisiko membuat aksi protes berlangsung ricuh.