Di sisi lain, produk petrokimia China memiliki keunggulan biaya produksi karena mendapatkan dukungan pemerintah dan memiliki akses bahan baku yang lebih murah. Selain itu, produsen China juga mengembangkan teknologi pengolahan yang tidak terlalu bergantung pada nafta.
"Produk petrokimia yang masuk ke Indonesia dari China itu murah. Kenapa bisa murah? Karena mereka mendapatkan dukungan dari pemerintah. Bahan bakunya murah," ujar Suryandi.
"China juga mengembangkan sisi hulunya dengan memakai teknologi ethane, tidak tergantung kepada nafta. Jadi mereka bisa cracking menjadi etilen untuk produksi PE. Lalu juga ada subsidi-subsidi, sehingga harga produk dari China itu sangat kompetitif," sambungnya.
Alhasil, produk asal Negeri Tirai Bambu lebih banyak dilirik oleh pelaku industri dalam negeri. Memberikan tekanan tambahan pada produsen lokal seperti salah satunya Chandra Asri.
"Dengan banyaknya produk yang membanjiri Indonesia itu membuat persaingan semakin ketat. Karena Indonesia sebagai pasar terbesar di ASEAN yang menjadi tempat China menjual produknya," jelasnya.
Menghadapi gempuran produk petrokimia impor dan ketidakpastian pasar tersebut, Chandra Asri menjalankan berbagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri nasional.